Mengubah Kendala menjadi Katalis dalam Berkarya

Mengubah Kendala menjadi Katalis dalam Berkarya

Seringkali keterbatasan menjadi penghalang bagi seseorang untuk berkarya, padahal dari keterbatasan atau kesederhanaan banyak karya legendaris tercipta. Semua karya itu punya rumahnya tersendiri

Lebih dari satu dekade lalu, tepatnya tahun 2012, band rock asal Amerika, Foo Fighters memenangkan penghargaan untuk Grammy Awards berkat salah satu lagu terbaik mereka berjudul “Walk”. Tidak tanggung-tanggung, band besutan Dave Grohl ini berhasil menyabet dua piala untuk kategori Best Rock Performance dan Best Rock Song untuk ajang Grammy Awards di tahun 2012 tersebut. Yang menarik dari penghargaan tersebut adalah ketika Dave memberikan pernyataan di atas panggung Grammy malam itu.

“Thank you for this award. Lagu ini special bagi kami, karena alih-alih rekaman di studio paling bagus di Hollywood, alih-alih direkam di sebuah komputer paling canggih di dunia. Kami merekam lagu ini di sebuah garasi rumah saya, dengan alat rekam yang sederhana. Dan tidak peduli seberapa bagus studionya, seberapa canggih komputernya, yang penting adalah isi lagu itu sendiri dan spirit bermusik kami ketika kami membuat lagu ini”, ujar Dave Grohl ketika itu.

Pernyataan Dave tersebut menjadi relevan jika dihubungkan dengan ‘pergerakan’ scene –so called- indie ketika pertama kali bergeliat. Alih-alih menghabiskan banyak energi untuk mengutuk label besar yang susah menerima musik yang ditawarkan, mereka lebih memilih memproduksi sendiri lagunya dan dipasarkan sendiri. Semua berawal dari keterbatasan yang disikapi dengan cara yang pintar, hingga menghasilkan sesuatu yang unik, dan bahkan lebih terasa hidup karena didasari oleh pola kreasi seru yang diaplikasikan dalam ragam cara.

Pure Saturday misalnya. Pada awal kemunculannya mereka seolah kebingungan untuk bisa memasarkan albumnya karena tidak tergabung dengan label besar dengan jaminan distribusi yang luas. Namun tidak habis akal, karena mereka akhirnya menemukan cara mendistribusikan albumnya lewat majalah Hai. Pada waktu itu hal tersebut tidak lazim, namun justru menjadi suatu gebrakan hingga nama mereka pun akhirnya muncul ke permukaan.

Dari cara distribusi kemudian beralih pada pola-pola kreatif meramu musik ditengah keterbatasan. Duo Endah N Rhesa pernah melakukan itu dengan mengunggah video rekaman mereka dengan alat seadanya seperti yang mereka perlihatkan di video berikut ini 

Apa yang duo ini lakukan seolah mengamini apa yang dikatakan Dave Grohl di atas, bahwa sebenarnya keterbatasan bukan menjadi alasan untuk kita berkreasi. Karena yang lebih penting dari itu adalah karyanya itu sendiri. Apakah karyanya bisa bicara lebih dengan kejujuran dan ‘kedalaman’ esensi dan estetikanya? Atau hanya ditujukan untuk seru-seruan pun rasanya tidak masalah, selama musisinya sendiri senang dengan apa yang mereka lakukan. Mungkin yang paling penting dari proses mencipta karya adalah si musisinya harus menikmati karyanya sendiri terlebih dahulu, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk merilis dan memperdengarkannya ke khalayak ramai.

Salah satu punggawa The Beatles, Paul McCartney pernah mengatakan jika ketika kamu membuat lagu pada malam hari dan ketika kamu terbangun esok harinya kamu lupa lagu tersebut, maka sudah bisa dipastikan jika lagu itu jelek. Karena kamu saja yang membuatnya lupa, bagaimana orang lain bisa mengingat lagumu. Pernyataan Paul tersebut menjadi sebuah ketegasan jika sebelum beranjak pada urusan teknis meramu lagu, yang terlebih dahulu menjadi catatan penting adalah apakah kamu sebagai pembuat lagu menikmati dan suka pada karyamu sendiri atau tidak.

Bicara soal keterbatasan dalam meramu musik, mungkin hal tersebut bisa sejalan pula dengan apa yang dinamakan musik Lo-fi atau "Low Fidelity". Sebuah istilah yang berhubungan erat dengan artiannya yang merujuk pada musik dengan kualitas rekaman dan produksi yang rendah. Musik semacam ini ternyata mampu memberikan ruang eksplorasi para musisi untuk membuat warna baru untuk karya-karyanya. Karena tujuannya direkam dengan kualitas suara yang rendah, maka pendengar musik lo-fi akan mendengar distraksi lainnya dalam sebuah karya lagu beraliran lo-fi ini, dari mulai putaran mesin rekam pita kaset ataupun elemen lainnya yang sangat dihindari dalam proses perekaman musik.

Meski begitu, suara-suara bising tersebut menjadi hal yang unik dan menjadi ciri khas dari musik lo-fi yang membuat banyak orang cukup menggemarinya. Bahkan di era visual instrument saat ini, banyak yang memberikan pilihan untuk menghadirkan karaktersitik musik lo-fi dalam proses mixing. Dengan berbagai instrumen yang direkam tanpa bantuan teknik sampling, membuat musik tersebut terdengar beberapa ambience dari suara-suara natural yang dibuat dari alat musik yang dimainkan.

Dari hal tersebut kita bisa menyimpulkan jika dalam sebuah keterbatasan ternyata kita bisa melahirkan pola-pola kreasi seru yang mungkin tidak akan ada jika secara teknis kita ‘dimanjakan’ dengan hal lain di luar karyanya itu sendiri. Meski sebenarnya tidak ada salahnya juga jika kita mendapatkan privilege dengan ragam alat rekaman yang bagus dan canggih. Tentu tidak diharamkan pula untuk kita bisa memanfaatkannya. Hanya saja dalam konteks ini, jika hal tersebut belum bisa kita dapatkan, yang harusnya kita lakukan bukan mengeluh dan mengutuki nasib, tapi menginjak pedal gas yang dalam untuk kemudian melaju kencang dengan apa yang kita punya dan bisa lakukan dengan karya yang ingin kita hasilkan.

Seringkali keterbatasan menjadi penghalang bagi seseorang untuk berkarya, padahal dari keterbatasan atau kesederhanaan banyak karya legendaris tercipta. Semua karya itu punya rumahnya tersendiri. Jadi bagaimanapun karya yang kita ciptakan akan selalu menemukan rumahnya. Semua karya terlahir dengan keunikan dan jiwa tersendiri, karenanya jangan pernah ragu untuk menyuarakan karyamu karena itu adalah titipan sang ilahi untuk bisa sampai kepada rumahnya.

BACA JUGA - Mungkin Ini yang Luput ketika Mereka Gaduh Menganekdotkan ‘Skena’

Roni "Smi7h" Tresnawan

Roni "Smi7h" Tresnawan adalah founder dari band My Violainé Morning dan Pop at Summer, juga founder dari net label Grotesque Records/Humané Records. Terlibat aktif juga di beberapa label lokal lain seperti Glossarie Records, Narumi Records dan RDR. Selain kegiatan musik, Smi7h bergerak di bidang visual dengan pseudonym Smith1979, juga founder dari Narumi Visual.

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner