Bandung dan Pergerakan Musik Bawah Tanah dari Waktu ke Waktu

Bandung dan Pergerakan Musik Bawah Tanah dari Waktu ke Waktu

Ini hanya sekedar bagian kecil dari banyak hal yang terjadi di sini, dari apa yang saya lihat, saya jalani di kota saya sendiri, kota Bandung, mungkin banyak kawan-kawan dari luaran sana juga yang melakukan hal serupa, atau bahkan lebih bagus

Bandung, era 90an bisa dibilang adalah era keemasan musisi musisi bawah tanah, dengan semua bidang yang digarap, akhirnya kawan-kawan dari banyak komunitas bisa menciptakan sebuah gelombang besar baru, di tengah 'stuck'-nya industri mainstream musik rock yang selalu begitu begitu saja. Banyak band bermunculan, lahir dari tongkrongan-tongkrongan yang awalnya hanya dijadikan pelampiasan tanpa tujuan bersama teman-teman. Mereka mulai menjalankan hasrat musiknya, belajar bersama tentang banyak hal yang ada hubungannya dengan band, membentuk band, mencari referensi-referensi musik dari semua keterbatasan yang ada, memicu para penggiatnya untuk lebih 'keras' lagi mengaplikasikannya ke band yang baru terbentuk.

Waktu berjalan, banyak band yang akhirnya berhasil terbentuk dan bisa berjalan, tak sedikit pula yang bisa mengumpulkan banyak massa dari Bandung, bahkan dari luar kota, untuk bisa sama-sama menikmati sajian-sajian acara di gedung bernama Saparua. Hampir setiap Minggu banyak acara digelar dan terus melahirkan band-band baru. Acara beragam genre memang sudah menjadi kebiasaan dari acara-acara komunitas saat itu, seperti Hullabaloo, Gorong Gorong, Bandung Berisik, Minoritas, Bandung Underground, dan lain-lain, yang kemudian menjadi 'model' dan menjadi alternatif baru untuk banyak band menyalurkan hasratnya.

Waktu berlalu, band terus bermunculan, Saparua menjadi satu-satunya tempat paling representatif untuk menggelar acara hingga pada kurang lebih tahun 2004, tak ada gelaran apapun di gedung ini, karena memang secara bangunan sudah tidak layak untuk dipakai, kemudian Dago Tea House menjadi alternatif tempat baru, juga banyak pagelaran-pagelaran kecil yang diselenggarakan, sebagai penanda pula bahwa sudah sedemikian banyak kawan-kawan yang awalnya hanya menikmati, datang ke acara, atau membeli kaset/kaos, sudah menjadi pemain band, juga menjadi penggagas gelaran-gelaran di daerah daerah di Jawa Barat, Jabodetabek, hingga banyak daerah di seluruh Indonesia. 

Scene ini membesar! 

Disadari atau tidak, musik underground dari gelaran di gedung tua, atau sekedar acara 17 Agustusan kemudian berubah menjadi industri besar. Banyak band bawah tanah yang 'berhasil' dan menjadi headline di acara-acara skala nasional bahkan internasional. 

Hari ini ceritanya masih sama, hanya berbeda sudut pandang dan cara kerjanya saja. Tetap menarik dan menyenangkan. Semua sah-sah saja, selama masih dikerjakan dengan hati dan tanpa banyak interupsi. 

Generasi baru hari ini pun sedang sangat meledak-ledaknya menjalankan hasrat musik mereka. Dengan cara yang berbeda pula, lebih simple, dan dengan semua fasilitas dari derasnya teknologi, membuat mereka lebih berkembang lagi dalam mengembangkan kemampuannya. Banyak sekali gelaran-gelaran mandiri yang dibuat, membuat gebrakan-gebrakan segar untuk bisa terus menggerakkan roda semangat untuk memenuhi hasrat mereka yang seakan selalu tak terbendung. Membuat definisi-definisi baru tentang pergerakan yang mereka buat, dengan cara baru yang berbeda dengan cara 'kolot' seperti para penggagas dan pionir terdahulu, tapi dengan tujuan yang sama untuk membesarkan atau mewarnai movement itu sendiri dengan harapan lebih berwarna. 

Musik 'underground' saat ini selalu menjadi hal menarik untuk dibicarakan. Karena banyak hal, terutama percepatan teknologi yang memancing para penggagas, pelaku, penikmat, atau siapapun untuk bisa terus meng-update hasrat mereka masing-masing untuk terus mencipta dan menikmati musik itu sendiri.

Ini hanya sekedar bagian kecil dari banyak hal yang terjadi disini, dari apa yang saya lihat, saya jalani di kota saya sendiri, kota Bandung, mungkin banyak kawan-kawan dari luaran sana juga yang melakukan hal serupa, atau bahkan lebih bagus. Selama kita bisa menikmati kewarasan kita dengan banyak hal positif, bisa menjaga bara hasrat dengan baik, berkesinambungan, dan tentunya menjaga regenerasi agar tidak terputus dan tidak hilang komunikasi, pasti banyak hal menyenangkan pula yang bakalan kita temui dan kerjakan bersamaan. 

BACA JUGA - MELACAK TOREHAN DAN PENGARUH SUM 41 SELAMA 27 TAHUN

Yudi "Baruz" Setiawan merupakan seorang musisi yang telah menjalani karir bermusiknya sejak tahun 1992, ketika Baruz membuat band Balcony. Setelah itu dia kemudian mendirikan band bernama Godless Symptoms dan Konfliktion. Hingga kini Baruz masih bermusik bersama Godless Symptoms 
View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner