Proses Kreatif: Perihal Dilarang “Sompral” dan Nyanyian Sukma

Proses Kreatif: Perihal Dilarang “Sompral” dan Nyanyian Sukma


Negeri ini sudah begitu akrab dengan segala hal ganjil, khususnya hal berbau mitos dan mistis yang sangat lekat dengan budaya kita. Orangtua zaman dulu acap kali berucap tentang tak boleh begini tak boleh begitu dalam bersikap, khususnya di tempat-tempat sakral. Alih-alih takut, generasi di bawahnya sering tak peduli pada hal-hal berbau mitos dan segala larangannya. Wajar saja, zaman sudah berubah, dunia sudah modern, tak perlu menakuti hal yang tak rasional dengan mengikuti segala mitos yang ada.

Ada sebuah kata yang sangat saya suka, kata "Sompral" atau dengan kata lain berucap asal, seolah sedang meremehkan sesuatu. Banyak orang yang tak sengaja berkata sompral merasakan suatu hal ganjil setelahnya, namun banyak juga yang sengaja berkata sompral untuk membuktikan hal ganjil yang orang tua kita dulu utarakan jika melanggar aturan bersangkutan dengan hal-hal mistis. Sebenarnya memang bikin penasaran sih, tapi kebanyakan orang tak punya nyali untuk membuktikannya.

Saya bukan orang yang gemar mendebat aturan, jika memang katanya begitu ya saya ikut saja. Termasuk hal-hal yang katanya jangan dilakukan jika masuk ke sebuah tempat atau ke sebuah acara. Saya juga tak punya keinginan untuk bermain-main dengan memanggil hantu... Mmmmh, maksudnya hantu yang asing, bukan seperti sahabat-sahabat kecil saya. Dengan sikap tak acuh saja, sudah sering di datangi oleh hantu-hantu asing yang "Aneh".

BACA JUGA - Sepenggal Kisah Pertemuan Saya dan Canting

Belakangan, saya sedang asik bolak-balik ke studio untuk menggarap beberapa lagu baru. Salah satu lagu yang saya tulis memang punya cerita tersendiri. Tentu saja suasana mistis begitu kental di lagu ini, lagam liriknya saja saya dapat dari nyanyian seorang perempuan yang membangunkan saya di tengah malam buta. Belum ada judul, namun entah mengapa kata "Sukma" muncul begitu saja saat saya menulis lirik demi lirik lagu ini di atas sebuah kertas.

Sendiri merangkai hidup sarat makna...
Namun apa daya, Gusti tak ridhoi.

Sepenggal lirik lagu ini, ditulis berdasarkan ceritanya. Entah kenapa dia, namun saat menulis lagu tentangnya, ada perasaan sakit yang terasa menyiksa.

Tidak terus menerus saya berdiam di studio, karena kesibukan pekerjaan kantor. Contohnya malam kamis minggu lalu, saya sedang bertugas ke Bali bersama kantor, dan mempercayakan tim untuk mengambil suara kecapi di lagu ini. Konon katanya pada saat hendak merekam kecapi, listrik di studio sempat mati beberapa jam. Mereka menunggu hingga malam, dan melanjutkan proses rekaman hingga menjelang dini hari.

Biasanya setelah merekam intrumen untuk lagu, operator terus memutarkan hasil rekaman sebagai salah satu bentuk review. Otomatis tak hanya kecapi yang mereka dengarkan, melainkan instrumen lain beserta suara saya juga ikut di-review. Sebelumnya suara saya sudah sempat direkam, dan menurut sang operator rasa-rasanya ada yang kurang dari hasil rekaman suara saya. Karena saya tidak ada disana, mulailah dia berucap "Sompral".

"Bisa nggak sih kita panggil si Sukma? Buat isi vokal yang kurang?"

Mereka mulai tertawa-tawa, menganggap kalau itu adalah hal lucu. Setelah tak ada lagi yang bisa direkam, mereka mematikan mic di studio beserta alat-alat di dalam studio yang dipakai untuk rekaman.

Dan tiba-tiba...

Monitor di layar komputer operator memperlihatkan ada gerakan sinyal. Awalnya mereka menganggap kalau salah satu dari mereka lupa mematikan alat di dalam studio. Namun setelah masuk lagi untuk memeriksa, semua alat sudah dimatikan.

Yang selanjutnya mereka lakukan adalah, merekam sinyal yang tadi tertangkap. Jelas terlihat dari gambar frekuensi yang terekam, ada sesuatu yang sedang mengeluarkan bebunyian di dalam studio. Menurut mereka, jika dilihat dari grafiknya, terlihat seperti seseorang yang sedang berteriak, menangis, atau mungkin sedang bernyanyi. Seperti keinginan sang operator, ada yang berusaha ambil bagian di lagu itu.

Apakah itu Sukma?

Entahlah, suatu saat saya akan memperdengarkan lagu beserta hasil rekamannya pada kalian. Sekarang belum saatnya. Tapi intinya, percaya tidak percaya... kadang orangtua kita ada benarnya. Jangan sompral bahkan di tempat ramai sekalipun, karena kita tak sendirian. 

Images: Area51

       
Risa Saraswati

Partime singer, partime writer, & partime ghosthunter

COMMENTS

You must be logged in to comment.

RELATED NEWS

Website ini hanya diperuntukkan bagi Anda yang berusia 18 tahun ke atas.