Seberapa Penting Narasi Dalam Sebuah Karya Musik?

Seberapa Penting Narasi Dalam Sebuah Karya Musik?

Jika bicara musik, secara teknis rasanya bagus dan tidak itu relatif, maka agar itu menjadi menarik, beberapa diantaranya membumbui musiknya dengan narasi.

Narasi dalam sebuah karya musik biasanya datang dalam bentuk kumpulan cerita-cerita pendek, yang kemudian disisipkan dalam padanan lirik lagu. Beberapa diantaranya ada juga yang membuatkannya menjadi sebuah narasi besar, yang kemudian dipecah ke dalam lagu-lagu di album tersebut, hingga pada akhirnya akan menjadi sebuah cerita utuh layaknya skenario sebuah film.

Contohnya album Balada Joni dan Susi milik Melancolic Bitch, yang berkisah tentang perjuangan cinta Joni dan Susi diantara segala macam problematika kehidupan di negara dunia ke tiga. Atau jika hendak menarik garis waktu lebih jauh lagi, ada Mocca dengan album My Diary, yang runut berkisah tentang seseorang yang sedang jatuh cinta, berpacaran, lalu memasuki lagu terakhir dalam album, si tokoh utama harus berpisah dengan pasangannya. Mungkin klise, tapi secara pola kreatif, hal tersebut menjadi sesuatu yang seru.

Selain itu ada juga grup musik Zoo, yang membuat narasi besar jauh lebih kompleks dan membuat semestanya sendiri. Pada pergantian tahun 2018/ 2019, Zoo merilis album baru mereka, Khawagaka, yang mana album ini merupakan kelanjutan dari Trilogi Peradaban, Prasasti dan Samasthamarta. Keempat album ini dirilis dalam kurun waktu satu dekade sejak 2009. Layaknya Marvel, Zoo membuat semestanya sendiri, dengan segala macam teori dan pernik menarik yang mereka ciptakan untuk menguatkan karyanya.

Untuk hal ini, Zoo melewati batasnya sebagai kolektif musik, karena lebih dari itu Zoo adalah kreator yang punya concern lebih dengan pengembangan karya yang saling berhubungan dengan benang merah yang sama. Zoo terdepan untuk urusan eksperimentasi musik berbasis budaya, dan proses penggalian karyanya terus berjalan, dimana yang Zoo lakukan adalah mereka-reka ulang peradaban. Outpunya memang musik, tapi sejatinya mereka sedang tidak memainkan musik, tapi sedang menjadi bagian dari musik itu sendiri, untuk sama-sama larut dalam narasi besar yang mereka bangun.

Yang terbaru mungkin ada .Feast. Sebuah kolektif musik yang belakangan sedang mencuri perhatian. Mereka menarik dengan narasi yang mereka punya pada karyanya, karena jika hanya bicara tentang musik, kembali ke paragraf awal tadi, akan menjadi relatif jika hanya berkutat pada urusan teknis. Mini album Beberapa Orang Memaafkan, yang jika kita jeli mencari inisialnya akan melahirkan kata BOM. Dan benar saja, mini album tersebut memang terinspirasi dari kejadian BOM di Surabaya. Dari yang awalnya hanya akan bicara tentang kejadian tersebut hanya di satu lagu saja, namun pada pengembangannya, Baskara Putra, orang dibalik penulisan lagu-lagu .Feast mengantungi lebih dari 3 lagu untuk kemudian dimasukan dalam album tersebut.

Bicara tentang narasi, band lainnya yang juga punya concern lebih dengan kekuatan cerita pada bangunan lagunya adalah Forgotten. Band death metal asal Bandung ini selalu punya barisan lagu, dengan isian yang tidak hanya berisi kemarahan tanpa adanya latar belakang cerita yang kuat. Salah satunya album Kaliyuga, dimana saat itu sang vokalis Addy Gembel harus kembali menaruh ketertarikannya terhadap kitab-kitab kuno, untuk memantik pola kreasi dia membuat lagu. Tidak bersentuhan langsung dengan kondisi negara yang carut marut, dimana preman mudah ditemui dalam radius 10 meter sejak melangkahkan kaki keluar dari pagar, menjadi alasannya kembali membaca itu.

Dalam ajaran agama Hindu, Kaliyuga disebut juga dengan “zaman kegelapan", dan merupakan salah satu dari empat jenjang zaman yang merupakan siklus dari Yuga, dari mulai Dwaparayuga, Tretayuga, dan Satyayuga. Hal tersebut dirasa sesuai dengan apa yang ingin dilontarkannya, dimana personil lainnya di Forgotten siap menguatkannya dengan balutan musik death metal yang rapat dan intens. Hal tersebut kemudian menjadi sejalan dengan atmosfir yang mereka bangun. Mencekam, penuh teror, dan gelap.

Layaknya sebuah bumbu, narasi ikut menentukan apakah karya tersebut mampu bicara lebih atau tidak, atau hanya sebuah lagu yang terpampang di ruang karaoke, yang dinyanyikan tanpa adanya kekuatan lirik dalam lagu tersebut. Lebih buruk lagi, hanya berujung pada panggung-panggung koplo, yang mempersetankan isian lirik dalam sebuah lagu, karena ketika bisa dibuat goyang, semua lagu terasa bagus bagi para penikmatnya. Tanpa narasi yang kuat John Cage dengan musik senyapnya mungkin hanya akan dianggap sebagai musisi yang kurang kerjaan, karena selama empat menit lebih dirinya hanya mematung di depan piano yang harusnya dia mainkan. 

BACA JUGA - Refleksi, Diksi, dan Pola Kreasi Hindia di Ranah Musik Tanah Air

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner