Reportase : Romantisme Themilo Lewat Suguhan Musik Atmosferik di Wasted Parts Showcase

Reportase : Romantisme Themilo Lewat Suguhan Musik Atmosferik di Wasted Parts Showcase


“Wasted Parts Showcase” menjadi sebuah gelaran, yang tidak hanya menarik dari segi konsepnya saja, namun juga mampu menghadirkan romantisme bagi penggemar Themilo, terlebih bagi mereka yang mengikuti band ini dari sejak era awal berdiri. 

Bertempat di Institut Francais Indonesia, Jalan Purnawarman Bandung, Themilo menggelar showcase mereka yang bernama “Wasted Parts Showcase”, pada Sabtu, 12 Mei 2018 kemarin. Pertunjukan ini menjadi terasa istimewa, di usia lebih kurang dua dekade band ini berdiri. Apalagi Themilo akan  datang dengan repertoar lagu-lagu lama mereka di album Wasted Parts, yang banyak diantaranya menghadirkan romantisme tersendiri, mengingat Themilo bisa dibilang band “sebagai”, terlebih untuk publik di Bandung. Hadir sebagai salah satu band yang mempelopori musik shoegaze, membuat nama Themilo menjadi yang paling diingat, sebagai band yang menyuguhkan musik atmosferik, dengan balutan efek reverb dan delay tebal yang mengawang.

Masuk ke pelataran gedung IFI Bandung, pengunjung disuguhi berbagai foto Themilo dari era awal mereka berdiri sampai saat ini. Disana pengunjung bisa melihat transformasi Themilo dari masa ke masa. Dari mulai Ajie sang Vokalis masih berambut gondrong dan kurus, sampai beberapa mantan personil Themilo seperti Suki, Hendi, atau Coro, yang meskipun saat ini tidak lagi mengisi formasi di tubuh band Themilo, namun perannya tidak bisa dipisahkan begitu saja, mengingat torehan kreasi mereka tertuang juga dalam karya-karya yang disuguhkan Themilo, baik itu dalam format album, maupun beberapa penampilan mereka bersama Themilo.

Sekitar pukul tujuh malam pertunjukan dimulai, dengan menghadirkan Lightspace sebagai band pembuka showcase Themilo ini. Musik post-rock yang mereka bawakan, sangat menarik untuk disimak, baik itu secara teknis mereka bermain musik, maupun cara mereka menghadirkan dinamika dan harmoni yang selaras dengan mood pertunjukan malam itu, dimana persamaan mereka dan Themilo ada dalam benang merah yang sama, ketika keduanya piawai menciptakan ruang imajinasi dalam setiap notasi yang dimainkan. Lightspace hadir dengan agresifitas melodi yang mereka mainkan dengan stage act yang tidak hanya menarik, namun juga menjadi gambaran yang sejalan dengan musik, dan visual art yang terpampang di atas panggung.

Lightspace

COMMENTS

You must be logged in to comment.

RELATED NEWS

Website ini hanya diperuntukkan bagi Anda yang berusia 18 tahun ke atas.