Tentang Impersonator

Tentang Impersonator


Ketika kita menyukai, mengidolakan, menggilai seseorang, public figure, atau dalam hal ini adalah sebuah grup musik atau seorang artis, terkadang ada sebuah dorongan kecil di dalam diri kita untuk bisa menjadi seperti mereka. Meniru gaya bicara, gesture dan yang paling mudah dan banyak dilakukan adalah meniru penampilan. Untuk meniru gaya bicara bukan hal yang mudah, apalagi kalau yang akan ditiru berasal dari daerah yang berbeda bahasa. Bisa dilakukan, tapi mungkin tidak oleh semua orang. Demikian juga dengan gesture atau gerak tubuh. Tidak banyak orang yang melakukan ini. Tetapi untuk meniru penampilan, dari mulai pakaian, atau “on stage performances” inilah yang paling banyak dilakukan. Bisa dibilang bukan hal yang mudah juga bila ingin meniru penampilan seseorang, tetapi dengan berbagai macam cara, hal ini bisa diusahakan, atau malah dipaksakan.

Ketika kecil, sekitar umur 10 tahunan, saya mulai kenal dengan sebuah grup musik Inggris bernama Duran Duran. Saya tergila – gila oleh sang bassist Mr. John Taylor, yang sangat lihai memetik bass, dengan penampilan yang sangat keren (pada saat itu), gaya rambut yang unik (yang akhirnya menjadi inspirasi untuk gaya rambut seorang tokoh fiksi bernama “Lupus” yang saat itu sangat sangat terkenal), ditambah tampangnya yang sangat kasep…sampai sekarang. Dorongan kecil dalam diri yang tadi saya sebut diatas mulai muncul pelan-pelan. Sejalan dengan bertambahnya umur, dorongan itu makin besar. Di umur 12 tahun, ketika saya mulai belajar main bass, saya mulai mencoba untuk meniru penampilan si “The Tigger” Mr. Taylor. Cari celana katun “baggy” warna biru langit, pake jas warna krem tapi dalemannya kaos, sepatu pantofel warna putih dan anting di kuping sebelah kiri. Perkara rambut jambul ala beliau mah di skip aja dulu. Belom waktunya gondrong saat itu. Tapi estetika bagian kepala bisa di selesaikan dengan sebuah “head band” merk Yonex punya alamarhum om saya yang rajin maen badminton. Hasilnya?

BACA JUGA - Rockin TV: Media Kreatif di Bidang Audio Visual

Gagal bos. Jauh dari ekspektasi saya, sebagai calon impersonator John Taylor yang paling oke. Almarhum ayah saya sempet nanya, “Lu ngapain sih?”. Saya jawab, “Pengen kayak dia” (sambil liatin poster John Taylor lagi maen bass yang saya dapet dari majalah Hai). Terus beliau ngomong lagi, “Ya maen gitar (bas)-nya yang lu ikutin, jangan dandanannya. Jauh kemana- mana lo. Kulit aja udah kalah terang!!”.  Oke, berarti…penampilan bukan yang utama. Meniru orang lain (impersonating) bukanlah hal yang baik. Betul nggak? Ngga juga sih. Loh kok? Oke kita ngobrol sedikit sekarang tentang “impersonator”:  “An impersonator is someone who imitates or copies the behavior or actions of another. There are many reasons for impersonating someone: Entertainment: An entertainer impersonates a celebrity, generally for entertainment, and makes fun of their personal lives, recent scandals and known behavior patterns. (Wikipedia)”.

Di Indonesia, secara luas, ada banyak sekali kawan-kawan penggiat dunia hiburan yang adalah seorang  - dianggap sebagai -  impersonator. Terlepas dari itu memang niat yang datang dari sang pelaku atau “labeling” yang keluar atas penilaian publik. Ada istilah atau ungkapan semacam pengkultusan seperti Si A adalah “Anu-nya” – Indonesia, Si B adalah “Anunya”- Bandung dan lain sebagainya. Tidak hanya di Indonesia tetapi saya yakin juga terjadi di hampir seluruh dunia.

Saya akan mengambil sedikit contoh dari nama-nama seperti Michael Jackson, Mick Jagger, Freddie Mercury & Elvis Presley bisa dibilang sebagai yang paling banyak menghasilkan impersonator – impersonator di dunia. Untuk nama terakhir konon sudah memiliki satu wadah/ organisasi berkelas internasional ETA (Elvis Tribute Artists – saya kurang paham mengenai hal ini). Yang saya kenal, di Bandung ada nama Hance Presley yang menurut saya adalah impersonator Elvis terbaik yang pernah saya lihat.Ada juga kang Uwoh Abdulah yang merupakan impersonator Freddie Mercury yang menurut saya juga terbaik. Ada Fadly Jackson sebagai impersonator Michael Jackson.

Untuk generasi 1980-an mungkin lebih mengenal nama Mustapha Jackson. Satu nama lagi, dan mungkin yang memiliki impersonator terbanyak, paling tidak di Indonesia adalah Sir Michael Phillips Jagger atau lebih dikenal dengan nama Mick Jagger. Untuk daerah Bandung saja ada banyak nama yang bisa saya sebut sebagai impersonator Mick jagger dengan kategori yang (lagi-lagi) menurut saya, terbaik, seperti, Gendra, Jay, Juli Jagger, dan sudah pasti, Almarhum Deddy Stanzah. Dari luar Bandung ada Boy Jagger dan… Rico Korompis.

Lalu bagaimana sebenarnya cara menjadi impersonator yang baik? Apakah memang ada tahapan-tahapan yang harus dilalui, persyaratan atau kemampuan khusus yang harus dimiliki? Dari yang sudah saya ketahui, bincang-bincang dengan beberapa kawan yang kebetulan adalah seorang impersonator, memang tidak ada aturan baku secara umum mengenai “how to be a good impersonator”.  Semuanya kembali ke niatan dan kemampuan masing-masing pelaku. Sejauh mana dan sebisa apa dia untuk mengikuti atau meniru sang idola. Di lain hal, pada saat kita bicara mengenai “impersonating someone”, ambil contoh 4 nama yang sudah disebut diatas, mungkin beberapa hal yang mungkin bisa dilihat: Look-Alikes  (seseorang berpenampilan mirip secara fisik, penampilan, dan gaya),  Sound-Alikes (memiliki karakter suara / vocal yang sama atau kurang lebih mendekati), dan Mixed / Combined  (hanya penampilan fisik dan karakter suara yang mirip).

Untuk menuju kearah 3 point diatas, atau paling tidak 1 dari 3 point diatas, seorang impersonator dituntut untuk banyak belajar mengenai public figure yang akan ditiru. Detail demi detail harus diperhatikan. Jam terbang tampil dan latihan harus diperbanyak. Di dunia hiburan terkadang jam terbang lah yang menjadi faktor penentu keberhasilan sang pelaku. Dan faktor mental tentunya.

Sayangnya, dari sebegitu banyak impersonator yang ada, masih banyak juga yang tidak memperhatikan faktor kualitas dari elemen yang paling penting, contohnya kualitas vokal. Ambil contoh, daari sekian banyak peniru Mick Jagger yang sudah pernah saya lihat (baik di Bandung dan sekitarnya, Jakarta dan daerah lainnnya termasuk di luar negeri), banyak yang hanya sekedar mementingkan unsur “Look-alikes” dan “Sound-alikes” nya saja, tetapi melupakan satu hal penting yaitu “Musical Ability”-nya.  Ketika seorang impersonator Mick Jagger tampil meliuk-liuk dengan dandanan ala Mick Jagger di tahun 70an serta bibir dower bergincu, lari kesana kemari sembari berteriak; “Well, well…well…” tetapi pada saat menyanyi “Hongky Tonk Women” sudah out of tune dari lirik awal nya dengan ucapan “Amedeuh…”.

Begitu juga dengan impersonator Elvis yang hanya penuh daya tarik saat satu kakinya bergoyang, ditambah pamer kostum dan kacamata yang harganya mungkin sama dengan tiket 1 kali jalan ke Jeddah, tapi dari sekian banyak kata-kata dari lirik lagu “It’s Now Or Never” yang terdengar jelas hanya bagian “mayleeeuppp wonweeeeiitt…” saja disambung dengan suara berfrekwensi rendah mengucapkan dengan gaya khas mendiang Elvis…. “tengkyu, tengkyu perumnas…”.

Tidak ada yang salah memang. Selama menghibur. Sama sekali tidak ada yang salah. Hey this is entertainment!!. Hanya sedikit disayangkan saja, ketika seharusnya entertainment itu bisa mendapatkan tingkat apresiasi yang lebih tinggi. Silakan disikapi dengan bijak oleh masing – masing individu saja. Apa yang kira-kira terbaik.

Balik lagi ke diri saya. Semenjak gagal menjadi John Taylor, saya sama sekali tidak berminat untuk menjadi seorang impersonator. Bukan gengsi atau malu. Tapi hanya setelah sedikit saya kaji, ternyata sangat sangat tidak mudah. Banyak hambatan yang harus dilalui untuk menjadi seorang impersonator handal semacam Rico Korompis ayau Kang Uwoh Abdullah. Tidak hanya penampilan tetapi juga kemampuan musikalitas. “Jangan dandanan doang!” begitu kata almarhum ayah saya. After all, kalau memang harus menjadi seorang impersonator, secara fisik mungkin saya lebih pantas meniru Farid Hardja ketimbang John Taylor. Lima Oscar Victor Echo apakah monitor? 

       
Ade 'Muir' Purnama

Bassist of:
Pure Saturday
D'Ubz Bandung
A4/Akustun Band

COMMENTS

You must be logged in to comment.

RELATED NEWS

Website ini hanya diperuntukkan bagi Anda yang berusia 18 tahun ke atas.