Media Pemutar Musik dari Masa ke Masa

Media Pemutar Musik dari Masa ke Masa

Kehadiran teknologi ini menjadi penyambung antara musik yang terdokumentasi dengan penikmatnya. Seiring waktu, teknologi mendorong pembaruan alat-alat ini. Hingga sampailah kita di era digital

Manusia dan musik memiliki relasi yang unik. Secara tak langsung, alunan dari musik, hadir menemani perjalanan hidup para penikmatnya. Musik memberi koneksi yang kuat antaranya dengan para musichopile. Lewat persinggungan manusia dan musik, terciptalah sebuah perasaan ekspresif bagi pencintanya, buah nukilan indra pendengar ke hati lalu pikiran.

Dari masa ke masa musik menemani tumbuhnya peradaban manusia dan teknologi. Untuk menikmati musik, lahir alat pemutar dan media penyimpanannya. Kehadiran teknologi ini menjadi penyambung antara musik yang terdokumentasi dengan penikmatnya. Seiring waktu, teknologi mendorong pembaruan alat-alat ini. Hingga sampailah kita di era digital.

Hidup di era digital membuat alat pemutar musik lawas menjadi langka. Tak ayal banyak kolektor mencari-cari alat musik lawas untuk mengejar nuansa vintage. Pada kesempatan kali ini, saya sajikan beberapa paragraf berisi penjelasan singkat berbagai media pemutar musik dari masa ke masa. Bagi yang pernah mengalaminya, anggap saja sedang bernostalgia.

Vinyl (Piringan Hitam)

Salah satu media penyimpan dan pemutar musik klasik yang masih eksis hingga kini adalah vinyl atau piringan hitam. Vinyl merupakan media penyimpanan analog yang berisi dokumentasi rekaman musik. Bentuk vinyl mampu memfasilitasi kelahiran sebuah album fisik. Kapasitas dari piringan hitam ini ditentukan oleh diameter dan juga kecepatan pemutaran.

Mulanya piringan hitam terbuat dari bahan kaca yang diprakarsai oleh Emile Bernier. Piringan hitam berbahan shellac menjadi jenis yang paling banyak diproduksi. Meski banyak diproduksi, sebenarnya material shellac ini rentan rusak. Oleh karena itu dipilihlah sebuah plastik polymer bernama vinyl yang digadang-gadang lebih awet dibanding shellac.

Vinyl pertama kali muncul di Amerika Serikat pada tahun 1948. Seorang ilmuwan bernama Peter Carl Goldmark merupakan manusia pertama yang mengenalkan bentuk suara hasil rekaman. Konsep pertama vinyl terbentuk dengan goresan alur pada piringan berbahan polivinil klorida, sebuah polimer termoplastik yang kini dikenal dengan singkatan PVC.

Untuk memutar musik dari vinyl diperlukan turntable sebagai alat penunjangnya. Selain itu, terdapat alat pemutar vinyl lainnya yang bernama fonograf. Namun jenis yang terakhir disebut sudah terbilang langka. Hingga tahun 2023, masih banyak musisi Indonesia yang merilis album vinyl. Sebut saja The Adams, Nadin Amizah, Stars and Rabbit, dan masih banyak lagi.

Kaset Pita

Meski tidak sulit ditemui, namun ada gap yang membuat kaset pita tergolong benda lawas. Hal ini tentu karena penggunaannya sudah jarang teroptimalkan saat ini. Meski demikian, nyatanya masih banyak musisi indie yang hingga kini melahirkan karyanya dalam bentuk kaset pita. Tentunya dengan tetap menerbitkan karya musik mereka melalui platform streaming digital.

Kaset pita merupakan teknologi pertama yang memungkinkan penyebaran musik dalam skala luas. Bentuknya yang lebih kecil dibanding vinyl, membuat kaset pita sempat menjadi primadona di masanya. Penemuan kaset pita memberi dampak yang luar biasa bagi kemajuan industri musik. Di masa ini pula penyebaran musik dari band-band dunia semakin masif.

Media penyimpanan musik ini terbuat dari plastik tipe polyester. Pita yang dimaksud adalah partikel yang terdapat pada dua gulungan kecil di dalam eksterior plastiknya. Gulungan yang terdapat di kaset pita dilapisi magnet sebagai pemutar musik. Fungsi lain dari gulungan yang ada adalah menjaga pita bergerak dengan kecepatan stabil, hingga mencapai kualitas rekaman musik yang baik.

Penggunaan kaset pita saat ini mesti didukung dengan perangkat Walkman sebagai alat pemutar audionya. Sebenarnya ada banyak radio lawas yang bisa digunakan, namun harganya pun tak main-main. Dibandingkan alat pemutar vinyl, Walkman nampak lebih praktis karena bisa dibawa ke mana pun kita inginkan. Sejak ditemukannya kaset pita, penggunaan vinyl cukup menurun.

CD (Cakram Padat)

Bentuknya sama seperti piringan hitam. Yang membedakan adalah warnanya jarang hitam, ukurannya lebih kecil, serta diameter lubang yang lebih besar di tengahnya. Benda bernama cakram padat ini lebih dikenal sebagai CD (Compact Disc). Di awal kehadirannya benda ini sangat digemari, dikarenakan penyajiannya dapat menampilkan efek visual sekaligus.

Peran CD memang sebagai penyimpanan efektif bagi audio sekaligus video. Cakram padat terbuat dari dua material utama; plastik dan logam yang bisa dialiri listrik. Bahan plastik yang digunakan untuk membuat CD adalah polikarbonat. Untuk ketebalannya sendiri hanya berkisar 1,22 mm. Keunikan lainnya terdapat pada ukuran kapasitas penyimpanan CD yang berbeda.

Teknologi cakram padat pertama dikenalkan oleh dua produsen kenamaan dunia, yakni Phillips dan Sony. Mulanya kedua produsen teknologi tersebut saling berburu untuk menguji siapa yang paling cepat merilisnya. Akan tetapi, lama-kelamaan keduanya mencapai kesepakatan untuk bergabung menciptakan penemuan ini. Hingga terciptalah Compact Disc pada tahun 1983.

Semua cakram padat memiliki alur spiral di tengahnya. Alur tersebut berfungsi sebagai pemutar CD saat digunakan. Untuk mengoperasikan cakram padat bisa dilakukan melalui komputer, bahkan laptop. Sebelum memasuki era laptop, pemutaran CD lebih umum dilakukan melalui VCD Player dan juga DVD Player yang disambungkan kepada televisi.

Platform Digital

Siapa sangka teknologi berpacu secepat ini. Belum seabad sejak pertama vinyl eksis, kini kita dapat menikmati beragam layanan musik melalui kanal digital. Di era sekarang, siapa saja bisa mendengarkan musik di mana saja dan kapan saja. Bahkan jika musisi yang melahirkan karya musiknya rajin, dengan mudah kita bisa berselancar mendengar lantunan album-album lawas.

Kini tanpa perlu membeli album fisik, kita bisa dengan mudah menikmati rilisan terbaru dari para musisi yang melahirkan karya terbarunya. Sejak tahun 2016, berbagai platform digital mendorong perkembangan sebesar 76% terkait konsumsi musik. Hal ini melonjak sekitar 3% dari tahun sebelumnya. Di fase itulah sejarah mendengarkan musik di kanal digital dimulai.

Hingga kini sangat banyak kanal digital yang menyediakan layanan streaming lagu online. Beberapa contohnya seperti iTunes, Spotify, Apple Music, Joox, Soundcloud, YouTube Music, serta Google Play Music. Setiap platform memiliki kelebihan dan keunikannya masing-masing. Tinggal disesuaikan dengan gawai yang dimiliki, ataupun sesuai dengan tampilan yang paling nyaman.

Keuntungan mendengar melalui platform digital adalah akses yang mudah. Tanpa perlu mengunduhnya, hanya perlu sekali klik, kita bisa menikmati lagu yang diinginkan. Bagi musisi, ini menjadi salah satu cara promosi karya terbaru, meski cara ini sejatinya mengubah industri musik. Dari asalnya industri komoditas, menjadi industri jasa dengan akses untuk memutar musik.

Nah itu dia rangkuman singkat perjalanan media pemutar musik dari masa ke masa. Dimulai dari era vinyl hingga platform digital, mana yang menurutmu paling berkesan? Tak bisa dipungkiri teknologi telah mengubah banyak hal. Di satu sisi kita mendapat beragam kemudahan, namun di sisi lain, para musisi mesti promosi lebih gencar untuk mendapat panggung sesungguhnya.

Tidak ada yang salah meski hanya mendengarkan rilisan musik melalui kanal digital. Mari hindari pembajakan lagu dengan membeli paket langganan yang disediakan. Lalu pastikan juga kita mendukung perkembangan finansial musisi yang berkiprah, dengan membeli merchandise resmi keluaran mereka.

Pun demikian dengan mengapresiasi mereka ketika manggung langsung. Dirilis dalam bentuk apa pun musik tetaplah musik. Namun sebagai musisi, selain merilis lagu di platform digital, alangkah baiknya memiliki pula rilisan album fisik. Tak ada alasan heroik di balik ungkapan ini. Hanya saja, mungkin hal tersebut bisa bermanfaat suatu saat nanti. Bukti jika apa yang pernah dicapai, terdokumentasikan pula secara material.

BACA JUGA - Menelisik Sejarah Indie Pop di Indonesia

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner