SORE: “SORE Sebagai Medium yang Benar-Benar Jeli Matanya untuk Melihat Kehidupan”

SORE: “SORE Sebagai Medium yang Benar-Benar Jeli Matanya untuk Melihat Kehidupan”


Memberi kejutan terbaru, SORE merilis tiga video klip sekaligus yang berjudul “Plastik Kita”, “I Never Knew You In Wonderland”, dan “Tatap Berkalam” dari album mereka, Los Skut Leboys. Sempat ditemui, inilah percakapan dengan Ade Paloh (Vokal), Bemby (Drum), dan Ading sebagai produser dari “Los Skut Leboys”.

Kenapa SORE merilis tiga video secara langsung?

Bemby: Sebenarnya dari tahun lalu tuh kami mau bikin video klip satu-satu, tapi tiba-tiba banyak yang merespon. Maksudnya sutradara-sutradara lain atau teman-teman lain banyak yang respon pengen bikin video klip lagi. Jadi, ketika prosesnya belum selesai ternyata udah ada yang buat lagi. Ya udah, jadi kami rilis tiga video secara langsung.

Ade Paloh: Itu tuh karena memang pembuatannya secara gradual, tidak pernah direncanakan untuk dikeluarkan bersamaan gitu. Cuma kenapa enggak buat ngeluarin tiga sekaligus. Ketika yang di LA (Los Angeles) udah kelar, yah kenapa nggak langsung aja daripada lama lagi, nunggu lagi. Jadi, kayak ngasih suguhan sekaligus, jadi merasa terhibur dari tiga video itu.

Darimana ide untuk ketiga video tersebut?

Ade Paloh: Premisnya saya. Premis dari dua video pertama yang “Plastik Kita” dan “Tatap Berkalam” itu dari saya. Kalau yang “Plastik Kita” tentang kehidupan yang sebenarnya harus kita raih, kehidupan yang real, kita jangan sampai terkenal oleh kepalsuan, dan merasa selalu kurang. Hidup itu harus dipenuhi dengan anugerah yang ada. Jangan pernah memungkiri diri sendiri dengan segala asupan-asupan duniawi. Makanya di situ ada semiotika antara anak kecil yang berbaju putih lusuh dengan godaan, kalau disitu semiotikanya perempuan yang berbaju hitam.

Benang merah dari video itu apa?

Ade Paloh: Rangkuman dari semuanya itu ada di video “I Never Knew You In Wonderland”, di mana lebih baik saya tidak pernah mengenal Anda tapi kita selalu beriringan bersama, di mana saya memperhatikan Anda, Anda tidak harus memperhatikan saya. Sebenarnya itu kayak semiotika kehidupan juga bahwa hidup itu adalah muse sebenarnya, yang tidak akan pernah kita raih, tapi kita jalani aja gitu. Jadi, dua manusia itu sebenarnya satu manusia yang satu lagi adalah manusia yang dilambangkan sebagai muse, sebagai ikon bahwa kehidupan itu kita nggak akan pernah raih, tapi berjalan saja bersama dengan kehidupan itu.

Dari tiga video tersebut, mengapa SORE mengangkat tema tentang hal yang tidak dapat tercapai?

Bemby: Karena biasanya kan sering kayak begitu. Sebenarnya kan itu harfiah.

Ade Paloh: Karena memang hidup itu nyatanya begitu. Kita kayaknya selalu ingin memiliki apapun juga. Sebenarnya enggak. Kita tidak akan memiliki apa-apa kecuali memori-memori orang yang pernah kenal kita, amal budi baik kita, habis itu udah, kita nggak ada lagi, that’s it.

Ading: Tiga lagu itu sebenarnya tiga lagu yang penting. Karena memang di dalam tiga lagu itu termaktub makna yang dalam. Memang, itu merupakan satu keunggulan dari SORE. SORE sebagai medium yang benar-benar jeli matanya untuk melihat kehidupan. Maksudnya, tanpa kita pikirin sebenarnya sekarang ini actually kita lagi hidup, dan yang kita tunggu apa? Kematian. Ya kan? Nah,sebenarnya dari tiga video itu, SORE mau ngasih tahu ke orang-orang bahwa sebenarnya dalam hidup ini masih banyak hal-hal yang lebih penting daripada meraih glory, kejayaan, dan lain-lainnya. Jadi, ini penting.

Ade: Kalau misalnya mengutip quote dari orang-orang di Amerika yang Chicano, LA tuh ada orang-orang Meksiko. Mereka pernah ngomong, saya sangat mengutip itu sebenernya, “either you get busy dying, or you get busy living”. Itu gila lagi. “Get busy dying or get busy living”. Karena kita semua akan die. We’re all dying. Elu mau “get busy dying” ya udah elu kerja tiap hari, elu melakukan segala kegiatan elu ya seperti roda berputar aja gitu, atau “you get busy living”, seperti katanya si Ading tadi, banyak hal-hal yang memang semasa hidup elu masukin ke kehidupan elu untuk menjadi hidup elu yang penuh, yang berarti, sampai akhirnya elu tiada lagi. Bahwa elu pernah ada untuk tiada. Untuk menjadi ada lagi nanti. Berlangsung terus. Seperti Chairil Anwar, “sekali berarti lalu mati, ingin hidup seribu tahun lagi”. Seribu tahun lagi dia hidup dengan kata-kata itu. Terkenang.

Video klip “I Never Knew You In Wonderland” itu kan di luar negeri, gimana ceritanya bisa sampai bikin video disana?

Bemby: Setahu saya, itu emang temannya Ade juga. Jadi, dia menawarkan bikin video klip di Los Angeles, ya kenapa engga, silahkan aja. Mereka shooting sendiri, dengan talent orang sana juga. Talent-nya juga kalau nggak salah fotografer professional.

Ade Paloh: Di Downtown LA sama Death Valley. Saya nggak shoot di sana sih sebenarnya. Saya telepon teman saya untuk shoot disana. Saya kasih tahu ceritanya kayak gimana. Lalu, saya sangat mencintai banget Death Valley di California. Ketiadaan yang ada, gitu. Kebesaran alam di mana kita itu merasa diri kita itu kecil, sekecil debu. Betapa dahsyatnya semesta yang diciptakan Tuhan untuk kita, untuk merasakan bahwa kita ada di situ tapi sebenarnya kita tiada juga. Debu, kayak gitu. Makanya ada Death Valley itu. Dan gubuk kecil itu, kayak gubuk yang sebenernya si dua insan manusia itu ingin bertemu di situ tapi tidak akan pernah bertemu. Sampai usang, sampai reot. Sebenernya kehidupan kayak gitu. Kita lihat terus kan kehidupan di sana. Sampai reot gitu. Cakrawalanya ada, kita akan menuju kesana tapi tidak menuju kesana.

Ading: Kayak cork in the ocean. Kan ngambang tuh. Nah, sebenarnya kan arus dari Laut Pasifik sampai Laut Hindia Belanda tuh nggak diam. Jadi kita pun nggak diam. Terombang-ambing. Kalau kita lagi kesasar nih, di ini sih… di Perang Pasifik. Di Perang Pasifik itu pas kapalnya jatuh, abis itu kita stranded di tengah laut, terapung, tanpa kita sadari kita udah lewat jauh banget karena ngikutin arusnya itu. Sebenarnya tanpa kita sadari, dengan adanya pergerakan politik apa segala macam yang kayak begini nih, actually kita lagi jalan ke arah itu.

Kalau cerita tentang judul-judulnya itu gimana sih?

“Plastik Kita”

Ade Paloh: “Plastik Kita” sih gampang sih sebenarnya. Dalam idiom Amerikana, “if you’re being fake, you’re being plastic”. Bahwa kita tuh plastik. Plastik itu kan sesuatu yang dibikin oleh manusia untuk merepresentasi sesuatu yang asli, jadi digunakan dengan mudah melalui plastik. Tapi, itu sebenarnya tidak asli, apapun juga. Palsu. Kepalsuan yang harus kita hindari. Jadi plastik kita itu kayak pertanyaan bahwa “kita itu plastik apa bukan?” gitu. Bahwa sebenarnya yang kita harus raih adalah realness, yang asli. Dan plastik itu akan selalu ada untuk mengingatkan kita, jangan sampai kayak begitu. Makanya, di video ada luka, sama juga kayak di video “Tatap Berkalam” kan juga ada, itu kayak perlambangan di mana kita itu manusia, kita dari flesh and blood, yang akan berdarah.

Ading: Sebenernya lagu itu di jaman sekarang penting banget. Plastik itu makin banyak di mana-mana

Ade Paloh: Kayak misalnya gini, ada beberapa skena yang misalnya menerima pujian terus “aah… norak! Ngapain sih nerima pujian?!” padahal dalam hatinya dia senang. Tapi, langsung dipost kayak “aku nggak senang nih kayak gini gini gini” padahal aah.. Ya udah elu terima aja udah... Terima, tapi udah itu ya udah. Bersyukur, tapi nggak usah elu hina itu sebagai apa. Itu kan being plastic. Elu being fake to yourself. Elu ga being true to yourself. Emang bener. Sangat kompatibel sekali dengan jaman sekarang.

Ading: Makanya itulah kejeniusan SORE. Karena benar, semua orang dalam SORE itu matanya terbuka untuk melihat sekeliling. Jadi maksudnya bukan melulu untuk lagu cinta.

Ade Paloh: Cinta kan selalu ada, ngapain dinyanyiin melulu. Kenapa nggak ngambil subjek lain yang memang beralur dan beriring dengan cinta tapi emang selalu ada. Kenapa nggak itu subjek yang diangkat. Rasa manusiawi kita, rasa normalitas yang tidak normal.

“I Never Knew You In Wonderland”

Ade Paloh: Wonderland itu utopia kita sendiri. “I Never Knew You In Wonderland”, di mana gue bersama elu disitu, tapi gue nggak pernah kenal elu. Tapi gue akan beriringan bersama. Ya tadi, seperti hidup itu. In wonderland. Ini kan semua Wonderland lagi. Sebenarnya kita ditempatkan Tuhan disini untuk wonder. This is the land of wonder. Untuk berpikir dan berjalan.

”Tatap Berkalam”

Ade Paloh: Kalam itu jiwa. Kalam ilahi. Tatapan yang berjiwa, tatapan yang ada jiwanya. Tatapan yang nggak cuma bengong.

Ading: Tatapan penuh arti dalam kehidupan seseorang. Itu representasi hidup. Apa yang udah dibawa dari dia lahir, dia susah, banyak utang, abis dimarahin sama emaknya, apa segala macam, terpancar seeluruhnya dalam mata.

Ade Paloh: Mata itu kan jendela jiwa. Dan satu lagi, organ tubuh di badan yang dari bayi sampai kita mati, atau misalnya sampai umur 90 tahun yang tidak pernah berubah dalam bentuk dan size itu adalah mata. Cuma mata. Dia ngeliat semuanya, even yang buta pun juga dia melihat. Itu matanya dia, sinestesianya dia.

Ading: Makanya dengan mata itu ada namanya kebenaran. Karena itu adalah hal yang konsisten

Menurut SORE, apakah video musik ini masih relevan untuk jadi media promo?

Ya, kenapa enggak. Kalau nggak relevan kenapa kami rilis. Iya lah apalagi jaman sekarang kan udah nggak kayak jaman dulu yang semua diatur label, semua juga harus melalui TV. Harus ada TV musik atau sekilas musik atau apa. Sekarang kan langsung rilis sendiri di YouTube kan udah gampang, yang nontonnya juga gampang.

Ade Paloh: Iya lah, karena ada visualnya, jadi sangat relevan

Ading: Tiap orang pada punya handphone. Bisa akses YouTube di mana-dimana. Apa-apa dari YouTube. Itu relevan banget sih.

COMMENTS

You must be logged in to comment.

RELATED NEWS

Website ini hanya diperuntukkan bagi Anda yang berusia 18 tahun ke atas.