Opini Warung Kopi, Pesta Musik & Pesta Politik

Opini Warung Kopi, Pesta Musik & Pesta Politik

“Syair Ronggo Warsito

Jerit dan keringat gemuruhnya Rolling Stones

Api Revolusi

Haruskah padam digantikan figur yang tak pasti

(Condet - SWAMI)

Pasca dicabutnya PPKM oleh pemerintah, geliat panggung musik berangsur-angsur mulai kembali pulih, beberapa festival sudah rampung digelar, bahkan pada tahun 2023 banyak agenda festival beserta pengisi acara sudah jauh-jauh hari diumumkan. Hal tersebut tentu saja merupakan angin segar bagi industri musik karena selama masa pagebluk gelanggang pertunjukan hampir mati total.

Salah satu festival yang patut di beri cetak tebal adalah rrrecfest in the valley. Festival Tahunan yang digagas Ruang Rupa tersebut menawarkan sebuah festival musik yang agak berbeda baik secara line up penampil ataupun konsep festival itu sendiri. rrrecfest 2022 cukup berkesan dengan hadirnya Doel Sumbang, Yanti Bersaudara, disandingkan bersama Prontaxan, Kuntari, atau Syarikat Idola Remaja. Lalu ada PM Toh, Margie Segers, serta Rub of Rub yang menjadi jaminan keseruan gelaran tersebut.

Ada fenomena yang menarik ditengah riuhnya geliat tersebut, yakni banyak musisi/band menggelar pertunjukan (konser) tunggal, beberapa malah melangsungkannya di negeri Jiran, Malaysia. Tercatat via Media Sosial nama-nama seperti Tulus, Yura Yunita, Nadin Amizah, Voice of Baceprot dan seabrek penyanyi/musisi lainnya mengabarkan pementasan itu. Ini tentunya makin membuka keran kesempatan musisi dalam negeri untuk menjajal pasar luar Indonesia.

Selain itu, aktifnya kembali musisi-musisi gaek makin menambah warna pilihan musik yang bisa dinikmati para pemirsa. Sebut saja Iwan Fals setelah trilogi di Leuwinanggung akan menggelar sebuah konser lain di Jakarta dengan tajuk “Petisi Cinta Manusia Setengah Dewa” akhir Februari depan atau Sawung Jabo bersama Sirkus Barock setelah akhir tahun lalu sukses melakukan Reuni “Senandung Anak Wayang”ternyata dengan gelegar energi yang tak kunjung habis membawa gema cintanya ke beberapa kota, termasuk Bandung.

Biasanya jika kedua musisi legendaris tersebut sudah mulai gencar kembali melakukan safari, ada keresahan yang ingin disampaikan. Jika kita tarik kembali ke belakang munculnya Kantata Takwa tempat keduanya sempat bergabung adalah bentuk keresahan tersebut. Ia hadir menjadi sebuah counter bagi kondisi politik Jaman Orba dengan gelombang seni dan budaya yang terukur. Puluhan ribu anak muda saat itu seolah terbuka cakrawala berpikirnya setelah menyaksikan salah satu konser terbesar sepanjang sejarah musik Tanah Air.

Ya, 2023 akan semakin bergemuruh, seperti bait-bait syair SWAMI diawal tulisan ini dibuat karena selain agenda musik, hari-hari kita akan diisi oleh wajah para politisi dalam gegap gempita cupras-capres untuk pemilu 2024. Mungkin itu juga mengapa banyak festival dan konser digelar tahun ini karena tahun depan mungkin akan sedikit sekali para promotor mendapat izin keramaian (karena agenda kampanye).

Mengapa saya singgung hal ini karena musik dan politik saling terkait satu sama lain, di mana daya tarik keduanya bagi makhluk bernama manusia membuat orang rela bercucuran keringat, menyisihkan waktu dan tenaga. Dengan daya tarik itu pulalah banyak musisi terjun dalam ingar-bingarnya kampanye politik, baik sebagai penghibur atau memang menjadi pendukung salah satu calon.

Meskipun itu adalah kebebasan individu bagi siapapun menentukan dukungannya bahkan menjadi golput sekalipun, namun yang pasti bagaimana mengawal kebijakan politik nantinya agar bepihak pada rakyat, dan musisi apalagi dengan fan base yang besar seharusnya punya posisi tawar kuat dengan basis massa yang mereka punya.

Kembali lagi ke soal music. Meskipun banyak festival masih menerapkan konsep yang sama dengan headliner yang juga hampir sama, kita patut bersyukur karena banyak rilisan karya berserak mengawali tahun, bahkan beberapa band yang lama hiatus turut meramaikan kembali etalase musik Nasional, sebut saja Cherry Bombshell atau Payung Teduh Reunion yang berganti nama menjadi Parade Hujan dengan Kembalinya Muhammad Istiqomah Djamad pada posisi Frontman band tersebut. Hal itu menyiratkan akan semangat para musisi masih bergelora.

Jika Iwan Fals & Sawung Jabo saja masih menggelar tur dan konser, maka hal ini merupakan sinyal untuk musisi yang lebih muda untuk terus menjaga api semangat, meski suhu politik dan industri banyak diisi figur yang tak pasti.

Namun yang pasti, Pesta Musik & Pesta Politik haruslah bisa dinikmati masyarakat sebebas-bebasnya, tanpa sekat-sekat pilihan ataupun keruwetan birokrasi.

BACA JUGA - Analog VS Digital di Kepala Seorang Avedis Mutter

Dimas Wijaksana

Dimas Wijaksana adalah seorang buruh harian lepas, serta menulis lirik untuk Mr.Sonjaya, Bendi Harmoni, Syarikat Idola Remaja.

 

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner