Menyikapi Tren K-Pop

Menyikapi Tren K-Pop

Saya tidak suka dan bukan penggemar K-pop. Sejak awal kemunculan hingga kini. Menurut saya K-pop itu biasa saja.

Sejak dahulu kala, saya memang cenderung males melihat fenomena boyband dan girlband—yang notabene adalah elemen dasar K-pop. Ketika New Kids On The Block menyeruak lalu menjadi populer, saya adalah satu dari super sedikit yang menunjukkan penolakan di kala remaja. Sampai-sampai banyak sahabat, kaum kerabat, yang memusuhi. Utamanya perempuan. Alhasil, dari sikap mengambil jarak, memusuhi boyband-girlband tersebut sulit bagi saya untuk mendapat pacar *uhuk*.

Apa sih yang istimewa dari NKOTB, Backstreet Boys, Westlife, dan kawan-kawannya itu? Musiknya amat sederhana. Liriknya picisan. Dansa-dansinya (zaman itu) juga standar. Pun formatnya klise: ada yang “bad boy”, satunya lagi “shy boy”, lalu “the baby”, dan dua lagi yang di-plot menjadi sosok tertentu. Bukan tak mungkin nanti ada yang diciptakan figur yang rajin beribadah mengingat, terutama di Indonesia, kini sedang ngetren untuk merangkul agama. Ha.


New Kids On The Block — Sumber Foto: Gangster Report

Namun, bagi saya yang paling mengesalkan: semuanya rekayasa, buatan “pabrik”, semacam produk kemasan siap pakai. Sebab yang bersenandung sambil jingkrak-jingkrak di panggung itu tak lebih dari boneka. Atau wayang. Ada yang menggerakkan. Ada dalangnya. Bisa satu, bisa dua, bisa sebuah tim berjumlah beberapa orang. Yang di depan kita itu, para pemuda ganteng dan pemudi cantik yang berdendang seraya salto/koprol/kayang tersebut disetir oleh pawang. Mulai dari lagu, dandanan, gaya menari, peran di grup (kamu jadi cowok bandel, kau si pemalu, ente pasang tampang imut, dsb), band pengiring, jadwal manggung, memilih manajer, segala tetek bengek serinci-rincinya, semua diatur oleh aktor intelektual.

Lalu tugas—sekadar menyebut nama—NKOTB apa dong? Ya modal wajah saja. Soal kemampuan menyanyi belakangan. Jika bisa menyanyi ya bagus, syukur, itu bonus. Kalau tidak juga tak masalah. Kan ada auto-tune. Suara sumbang bisa tersamarkan. Yang penting secara visual nyaman di mata, ganteng. Pula saat bergoyang badan bisa cukup dinamis serta kompak.

Rudolf Dethu memiliki beragam profesi. Mulai dari manajer band, penulis buku, jurnalis, pengamat musik, aktivis gerakan sosial kemasyarakatan, koordinator program kesenian, sempat menjadi penyiar radio cukup lama, pun menyandang gelar diploma di bidang perpustakaan segala.

Pernah ikut menyelenggarakan salah satu festival industri kreatif terbesar di Indonesia, Bali Creative Festival, selama 2 tahun berturut-turut. Namanya mulai dikenal publik setelah turut berperan membesarkan Superman Is Dead serta Navicula.

Belakangan ini, Dethu disibukkan utamanya oleh 3 hal. Pertama, Rudolf Dethu Showbiz, band management yang mengurusi The Hydrant, Leanna Rachel, Manja, Athron, Leonardo & His Impeccable Six, Negative Lovers, dan Sajama Cut. Kedua, Rumah Sanur - Creative Hub, di mana ia menjadi penyusun program pertunjukan musik dan literatur. Ketiga, MBB - Muda Berbuat Bertanggungjawab, forum pluralisme yang mewadahi ketertarikannya pada isu kebinekaan dan toleransi.

View Comments (2)

Comments (2)

  • SCREAMINBUBBLE
    SCREAMINBUBBLE
    5 days ago
    sangat bagus dan mendalam pak ?
  • SCREAMINBUBBLE
    SCREAMINBUBBLE
    5 days ago
    sangat bagus dan mendalam pak
You must be logged in to comment.
Load More

spinner