DownForLifeForIndonesia - Waktunya Pertempuran Para Babi dari Neraka

DownForLifeForIndonesia - Waktunya Pertempuran Para Babi dari Neraka

Jurnal perjalanan Down For Life di Wacken Open Air, Jerman bagian ketiga (1 Agustus 2018).


Down For Life di Wacken Open Air, Jerman | Foto: Karina Supriaman

Hari ini adalah hari pertempuran. Pukul enam pagi waktu Jerman, apartemen kami sudah diramaikan dengan segala macam aktivitas yang berkaitan dengan persiapan Down For Life tampil di Wacken Open Air. Setelah berebut kamar mandi dan sarapan, kami segera menuju mobil yang sudah menunggu kami di tempat parkir. Kami mengikuti saran dari John, bahwa selambat-lambatnya kami harus berangkat pukul 8.30 waktu Jerman.

Kami membagi diri dalam dua tim: satu tim berisi saya, Down For Life, Man dan John, sementara satu tim lagi diisi oleh Dwi, Danny, Benny, dan Rickard. Masing-masing tim berangkat dengan mobil yang berbeda, karena kami juga akan menuju tempat yang berbeda. Saya, John, Man dan Down For Life harus bergegas ke VIP Area dan tim lain menuju Check-In Area, di mana Rickard yang memandu mereka untuk melakukan aktivitas tersebut.

Perjalanan kami memakan waktu sekitar satu jam. Sesampainya di VIP Area, John segera menuju ruang Artist Production untuk mengabarkan bahwa Down For Life sudah sampai di area. Tim yang berada di Artist Production langsung berkoordinasi dengan shuttle car khusus untuk antar jemput talent dari tempat parkir menuju backstage. Sementara Man bergegas ke dalam venue menggunakan shuttle bus untuk tamu VIP dan pers yang mondar-mandir setiap 20 menit sekali. Kandidat Metal-Battle pertama akan segera tampil, jadi ia harus menyaksikan mereka dari menit pertama.

Mengapa kami butuh shuttle bus/car? Karena, jarak antara tempat parkir dan backstage lumayan jauh. Kami bisa berjalan kaki, hanya saja perjalanan mungkin memakan 15-20 menit. Mengingat kami dikejar waktu juga dengan bawaan instrumen yang banyak, shuttle car adalah cara paling efisien. Selain itu, ini sudah menjadi fasilitas yang disediakan Wacken Open Air secara cuma-cuma. Kami harus memanfaatkan fasilitas tersebut, demi menghemat waktu dan energi.

Kembali ke Down For Life. Setengah jam dari situ, shuttle car untuk Down For Life tiba di tempat parkir. Setelah semua instrumen dimasukan dalam mobil, kami segera naik untuk diantarkan ke area backstage dalam tenda dome di kawasan Bullhead City Circus. Ada dua panggung di dalam tenda dome berkapasitas 10.000 orang tersebut, yaitu Headbangers Stage dan W.E.T Stage. Karena Down For Life tampil di W.E.T Stage, mereka dipersilahkan untuk menaruh barang-barang tepat di belakang panggung W.E.T Stage.

View Comments (1)

Comments (1)

  • Rendy11
    Rendy11
    16 Sep 2018
    Dead shall rise bukannya lagu dari terrorizer ya? Maaf kalo salah
You must be logged in to comment.
Load More

spinner