Selain Dengan Corona, Jaga Jaraklah Dengan Idola

Selain Dengan Corona, Jaga Jaraklah Dengan Idola

Menjaga jarak dengan idola membuat karya yang dia buat tetap menjadi mahakarya, tanpa ‘dirusak’ oleh bayangan remeh temeh personal sang idola. Sebaiknya kita tidak usah tahu ‘dapur’ saat sang idola memasak karyanya

Dalam sebuah kesempatan, vokalis band Seringai, Arian pernah menuliskan tentang band Roxx, yang diakui olehnya menjadi salah satu band idolanya. Namun ada satu kejadian cukup menggelitik ketika Arian mendapat sang vokalis, Trison Manurung sedang makan buah dukuh sambil rebahan. Secara impresi hal tersebut dinilai Arian kurang ‘ngerock’ (minimal seperti Ozzy Osbourne lah, yang makan kelelawar hidup di atas panggung, biar ngerock banget). Trison Manurung yang garang di panggung kemudian terekam oleh pikiran Arian, si penggemar Roxx tersebut. Hal itu melahirkan imajinasi tentang rocker yang liar, sampai akhirnya di luar panggung, Trison seperti juga kita pada umumnya, boleh dong rebahan sambil makan buah dukuh. Tidak lantas karena dia rocker, apakah makan buah durian juga harus dengan kulitnya, agar terkesan garang?

Selain Arian, seorang teman pernah berkisah tentang idolanya yang dia lihat sedang menggaruk ketiaknya, lalu tangan yang dipakai menggaruk tadi dia cium. Sejak saat itu dia mengaku tidak mendengarkan lagi lagu-lagu band sang idola. Padahal seperti halnya Trison di atas, hal-hal remeh temeh seperti itu mungkin wajar saja terjadi di banyak orang. Hanya saja para penggemar ini dijejali imajinasi berlebih akan sosok ideal menurut mereka. Mungkin banyak diantara kita yang insecure dengan diri sendiri dan mengimajinasikan sosok lain yang lebih ‘ideal’. Namun ketika sosok tersebut dilihat dengan jarak yang sangat dekat, ternyata mereka sama-sama manusia biasa yang bisa melakukan hal-hal remeh temeh seperti penggemarnya. 

Fragmen di atas kemudian membawa lamunan saya jauh sekali, ketika saya masih duduk di bangku SMA. Seorang guru saya di sekolah (beliau ngajar pelajaran Wawasan Seni) menyuruh saya melihat sebuah bunga dari jarak sekitar satu meter, sampai kemudian dia menyuruh lagi saya mendekatkan bunga tersebut hanya dalam jarak satu sentimeter. “ada bedanya ga?”, ujar dia. “Iya ada bu, pas dilihat dengan jarak satu meter bunganya keliatan bagus, tapi pas dilihat dengan jarak satu sentimeter, keindahan bunga tersebut ngga keliatan”, jawab saya.

Hubungan antara penggemar dan idolanya idealnya hanya terjalin di bawah dan di atas panggung saja, karena selepas itu sang idola akan bergegas melepaskan ‘jubah’nya sebagai seorang rocker, pop idol, atau apapun yang kita imajinasikan ideal. Menjaga jarak dengan idola bisa menjaga imajinasi akan sosok ‘ideal’ tersebut tetap hidup, karena di luar panggung nyatanya dia hanya manusia biasa, yang kebetulan dikasih kesempatan untuk bisa melahirkan karya yang ‘mengena’ di hati banyak orang. Karya yang nyangkut di hati kemudian dikuatkan pula oleh persona dan pembawaan sang idola, hingga hal tersebut membuatnya terasa sempurna.

Padahal seperti yang disampaikan Serieus di lagu “Rocker Juga Manusia”, mereka juga sama seperti penggemarnya yang bisa senang, sedih, dan kepayahan untuk hal-hal yang remeh. Mereka sama-sama akan berjibaku dengan keringat dan ingus ketika dihadapkan pada semangkok baso kuah panas nan pedas, yang dimakan di warung tenda pinggir jalan, saat siang hari. Saya pikir Stevi Item pun tidak mampu untuk jaga image menghadapi itu. Kombinasi panas dan pedas tidak mungkin dihadapi dengan wajah yang santai.

Jarak pada akhirnya yang membuat banyak hal menjadi bermakna. “Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkan ia dimengerti jika tak ada spasi?”, begitu ujar mba Dee Lestari. Baiknya mungkin kita mengidolakan sesuatu hanya dari karyanya saja, tidak berlanjut pada personal si empunya karya. Tanya Jerinx Superman Is Dead yang ilfil dengan vokalis Green Day, Billie Joe Armstrong. Jerinx dan Billy pernah ada dalam satu kesempatan buat ngebir bareng, lalu Jerinx mendapati Billy yang mabuk dengan rese. Sejak saat itu Jerinx memutuskan untuk berhenti mendengarkan lagu-lagu Green Day. Padahal sebelumnya, baik itu Jerinx atau pun personil Superman Is Dead yang lain tumbuh besar dengan lagu-lagu Green Day, dan pada awal karirnya mereka sering membawakan lagu Green Day di atas panggung.

Menjaga jarak dengan idola juga bisa membuat karya yang dia buat tetap menjadi mahakarya, tanpa ‘dirusak’ oleh bayangan remeh temeh yang idola kita lakukan. Sebaiknya kita tidak usah tahu ‘dapur’ saat sang idola memasak karyanya. Apakah dia benar-benar menuliskan lirik perlawanan atau pun punya makna filosofis yang dalam, kita nikmati itu sebagai sebuah karya, bukan representasi dari penciptanya.  

BACA JUGA - Ketika Anak Band Bikin Konten

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner