Perusahaan Rekaman Irama, Tongkrongannya Musisi Top Indonesia

Perusahaan Rekaman Irama, Tongkrongannya Musisi Top Indonesia

Foto: Istimewa.

Setelah melewati peliknya revolusi fisik dan diakuinya Kedaulatan Indonesia oleh Kerajaan Belanda, suasana dan masa tenang di bumi pertiwi menjadi momentum penting Mas Jos yang sudah berpangkat Komodor meneruskan hobi bermusiknya. Pada 17 Mei 1951, Mas Jos pun mendirikan The Indonesian Music Company Limited dan studio rekaman Irama Record di Jakarta. Mencatut apa yang dituliskan oleh mendiang Denny Sakrie dalam 100 tahun Musik Indonesia (2015:21), Mas jos membangun sebuah studio “di garasi rumah seluas 2x3 meter persegi di Jalan H. Agus Salim No. 65 dan di Jalan Besuki No. 23.”

Sebagai musisi, Mas Jos pada awalnya juga merekam suaranya ketika menyanyikan lagu-lagu berbahasa Indonesia, termasuk lagu ciptaan Ismail Marzuki. “Musik adalah gairah. Tak heran jika idealisme bermusik Mas Jos sangat tinggi,” puji Denny Sakrie. Selain daripada itu, Mas Jos mendirikan perusahaan ini berawal dari kegemarannya mengoleksi berbagai rilisan piringan hitam dari berbagai negara. Dari hobi ini, ia juga saling bertukar info mengenai bisnis rekaman dari para pengusaha rekaman dari banyak negara. Suatu waktu, Mas Jos berkesempatan mengunjungi perusahaan rekaman di Jepang, Amerika Serikat, Jerman Barat, dan Belanda. Selain mendapat pengetahuan soal rekaman musik, dia juga dipercaya mencetak dan mengedarkan piringan hitam di Indonesia. Dari pengalaman itu pula, tulis Theodore, Mas Jos terinspirasi memproduksi piringan hitam stereo pertama di Indonesia pada 1961. Dirilislah Semalam di Malaya, dengan iringan Orkes Studio Djakarta pimpinan Sjaiful Bahri.

Di antara musisi-musisi nusantara yang bernaung di bawah payung Irama Records, rekaman piano milik Nick Mamahit dan kelompok kuartetnya adalah yang perdana direkam. Seperti dicatat Theodorus KS dalam Rock 'n Roll Industri Musik Indonesia: Dari Analog ke Digital (2013:9), grup musik The Progressief Nick ini beranggotakan Max van Dalm pada bass, Dirk van der Capellen pada drum, dan Dick Abel pada gitar dengan album berjudul Sarinande. Album instrumentalia ini cukup mendapat tempat di hati pendengar. Dalam perjalanannya, Irama merekam hampir semua jenis musik. “Mulai dari jazzrock ‘n roll, pop, keroncong, melayu, hingga gambang kromong,” tulis Theodore KS dalam Rock ‘n Roll Industri Musik Indonesia. Rekaman itu diabadikan ke dalam piringan hitam yang kini menjadi buruan kolektor fisik.

View Comments (2)

Comments (2)

  • taromisaki
    taromisaki
    4 Sep 2019
    legend banget ya <br /> https://indonesianlanguagetranslator.com
  • TheBungsu
    TheBungsu
    5 Sep 2019
    mantaap . sukses terus
You must be logged in to comment.
Load More

spinner