Perempuan Dibalik Proses Kreatif Musisi Berkarya

Perempuan Dibalik Proses Kreatif Musisi Berkarya

Perempuan dalam sebuah lagu memang menjadi satu tema yang sejak dulu menjadi primadona. Dari mulai Seringai, Sore, hingga penyair jalanan layaknya Iwan Fals, serta Ebith G Ade, pun punya lagu tentang perempuan.

Jika ada satu persamaan yang diarahkan pada Sore dan Seringai, maka jawabannya bukan pada musik atau karakter bandnya, melainkan pada salah satu lagu mereka yang sama-sama mengangkat perempuan sebagai fokus utamanya. Seringai dengan lagu “Citra Natural”, yang secara terang benderang mengkritisi standar kecantikan yang kadung dicitrakan dalam layar kaca. Sedangkan Sore, dengan gaya penulisan lirik surealisnya, membawa peran perempuan sebagai sosok sentral, yang mampu (dalam istilah yang sore tuliskan) ‘merapikan’ ayah dalam lagu berjudul “Woo Woo”. Secara tersirat mereka menjadikan perempuan ada dalam kasta yang cukup tinggi, tidak seperti lagu lainnya yang menjadikan perempuan sebagai objek fantasi atau hanya sebatas berhala baru yang dipuja sang lelaki rapuh yang berharap perempuannya selalu ada untuknya.

Baik Seringai atau pun Sore tidak menjadikan perempuan sebagai tokoh antagonis yang sanggup mematahkan hati seorang laki-laki, seperti beberapa lagu arus utama yang selalu datang dengan formula sama, yakni : lirik melankolis perihal meninggalkan dan ditinggalkan, mendua dan diduakan. Banal dan klise. Band-band arus utama tersebut rata-rata menyuarakan keresahannya ketika hatinya hancur karena ditinggal sang perempuan terkasih. Sedangkan Seringai menangkap lebih dari itu. Mereka menyuarakan keresahan perempuan yang merasa dikerdilkan karena standar kecantikan dalam layar kaca. Padahal cantik harusnya bisa tampak secara natural, sebagaimana yang Seringai suarakan melalui lirik “tak usah menjadi sesuatu yang bukan dirimu, termakan, terbuai, dengan segala citra emas”.

Perempuan dalam sebuah lagu memang menjadi satu tema yang sejak dulu menjadi primadona. Dari mulai penyair jalanan layaknya Iwan Fals, hingga penyair sekelas Ebith G Ade, pun punya lagu yang mengangkat perempuan sebagai tema utamanya. Ebith bahkan punya lagu berjudul “Camelia” hingga berseri-seri (“Camelia” 1, 2, 3, 4). Atau Maroon 5 misalnya, yang melejit berkat debut albumnya yang berjudul Songs About Jane, dimana, lagi-lagi mengangkat perempuan sebagai tema utamanya. Tidak hanya satu lagu, tapi satu album, yang secara spesifik bicara perihal curhatan sang frontman Adam Levine akan mantan pacarnya, Jane.

Selain itu, sosok perempuan yang juga diangkat ke dalam sebuah karya musik digambarkan oleh beberapa orang musisi yang terdiri dari Arini Kumara, Christian Bong, Cindy Clementine, Arnold Pontoh, Evan Asher, Reza Bima, dan Monica Dyah Paramitha, yang membuat sebuah album yang terinspirasi dari perjalanan Ibu Negara Indonesia pertama, Fatmawati, berjudul Cerita Fatmawati. Album ini bercerita tentang romantika dibalik kemerdekaan Republik Indonesia, dari perspektif Ibu Fatmawati, yang mengambil waktu sejak ia bertemu Ir. Soekarno, hingga ia pergi meninggalkan istana.

Senada dengan album Maroon 5 tadi, album ini pun secara garis besar mengambil tema yang sama. Hanya bedanya, sosok sentral yang dijadikan tokoh dalam album ini adalah seorang ibu negara, dimana sang suami adalah orang penting, yang memproklamirkan kemerdekaan di negara ini. Tentu ini jadi sebuah sudut pandang yang menarik, dan memantik rasa penasaran, tentang kejelian para musisi yang berkolaborasi di album ini, “menangkap” isi kepala ibu Fatmawati, dan menghadirkannya dalam bentuk karya musik.

Lagu-lagu seperti “Fatima”, “Aku Dilamar Bapakku”, “Tunggu Aku Fat”, “Tak Ingin Ku Menunggu”, “Menjahit Merah Putih”, “Indonesia Raya”, “Ibu Negara”, “Bumiputera Soekarno”, “Aku Seorang Pecinta”, dan “Jalan Sriwijaya”, menjadi kumpulan lagu, yang tidak hanya menarik dari sisi artistik maupun estetika musiknya, namun juga ada goresan sejarah disana, dimana pembuatan liriknya sendiri dikerjakan melalui proses observasi, melalui beberapa buku yang mengulas tentang ibu Fatmawati dan Soekarno. Sehingga bisa dibilang hal-hal detil yang dituangkan dalam lagu-lagunya, jadi semacam mini biografi menarik, karena dihadirkan dengan sajian musik yang menghibur.

Perempuan dalam katalog musik Indonesia menjadi satu hal sentral, selain dari kontribusi para musisi perempuan dari mulai Dara Puspita hingga Daramuda, perempuan dalam katalog musik Indonesia juga hadir sebagai yang melatar belakangi proses kreatif musisi membuat karya. Dari mulai Seringai hingga Sore yang merilis sebuah mini album berjudul Mevrouw (Vrouw = Perempuan dalam bahasa Belanda), yang lebih spesifik pada artian Perempuanku atau My Lady, dalam bahasa Inggris. Mini album ini diakui mereka sebagai cara mereka menerjemahkan ‘keperempuan-an’ dalam diri mereka di banyak aspek. Tak heran jika hal tersebut diaplikasikan Sore dengan menggaet beberapa musisi perempuan untuk jadi kolaboratornya di mini album ini. seperti Leanna Rachel, yang ikut sumbang suara di lagu “Woo Woo”, dan Vira Talisa di lagu “Rubber Song”.

BACA JUGA - Laki-Laki Minggir! Saatnya Perempuan Tampil!

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner