Mempertanyakan Momentum Perayaan Hari Musik Nasional

Mempertanyakan Momentum Perayaan Hari Musik Nasional


Sumber foto : https://kebudayaan.kemdikbud.go.id

Apakah “Hari Musik Nasional”, hanya akan berakhir menjadi sebuah perayaan tanpa isian di dalamnya? Kalau pun ini jadi sebuah perayaan, apa memang yang ingin dirayakan?

Mengawali tulisan ini dengan mengutip pernyataan Friedrich Nietzsche yang mengatakan jika “tanpa musik, hidup adalah sebuah kesalahan”. Satu kutipan yang diamini oleh banyak orang yang memang bersentuhan langsung dengan musik, seperti pelaku musik (musisi) nya itu sendiri, maupun penikmat atau pendengar musik. Musik adalah perasaan yang bisa didengarkan, maka dari itu banyak orang yang merasa terwakili oleh musik, karena atas dasar perasaan itu tadi, yang terwakili lewat nada dan irama yang harmonis dalam struktur sebuah bagan lagu. Sulit rasanya untuk percaya jika ada orang yang tidak pernah mendengarkan musik.

Menghubungkan musik dengan sebuah momentum peringatan “Hari Musik Nasional” yang diperingati setiap tanggal 9 maret di Indonesia. Kenapa tanggal 9 maret? Karena tanggal itu diambil dari hari kelahiran W.R Supratman, sang pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, sebagai bentuk penghargaan untuk beliau. Tujuannya dibuat Hari Musik Nasional sendiri sebenarnya bagus, mengingat musik sudah begitu erat kaitannya dengan kehidupan setiap orang dimanapun itu. Namun ketika momentum peringatan Hari Musik Nasional hanya dijadikan sebagai sebuah wacana saja, apakah esensinya masih ada? Seperti kebanyakan momentum hari peringatan lainnya yang begitu banyak dibahas orang namun menjadi nir makna, dan berakhir sebagai sebuah judul saja.

Bukannya musik Indonesia tidak bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri, namun apresiasi akan sebuah karya musik yang bisa dibilang menyedihkan, dengan bentuk penghargaan yang terasa kurang. Tentang pembajakan misalnya. Berbicara tentang pembajakan, maka kita akan berbicara tentang masalah yang rasanya tidak akan selesai, atau dengan kata lain mustahil. Mungkin akan menjadi naif jika di zaman digital seperti sekarang ini, kita hendak menahan arus pembajakan itu, dimana pilihan mendengarkan lagu bisa dengan satu kali klik download (gratis) dan lagu pun bisa dinikmati.

Atau misalnya, ketika rilis album fisik hanya berakhir pada sebuah formalitas saja, sebagai pencapaian artistik seorang musisi atau sebuah band, yang berbanding terbalik dengan keuntungan yang didapat (jika konteksnya bisnis). Apalagi jika wacana tentang pembajakan ini diteruskan dengan mencari perhatian pemerintah untuk bisa sama-sama menangani ini. Bagaimana mungkin kita bisa optimis akan ada titik terang tentang pembajakan ini, jika nyatanya kios penjual CD bajakan itu bersebelahan dengan kantor polisi? Hak intelektual yang tercuri dibiarkan begitu saja, diputar begitu kencang disebelah kantor aparat pemerintah?

Memperingati “Hari Musik Nasional”, menjadi hal yang ambigu, jika harus dihadapkan pada sebuah pertanyaan, kemana musik nasional ini akan dibawa? Hal yang paling baru misalnya, tentang berita Efek Rumah Kaca yang memutuskan berangkat menghadiri festival musik bergengsi di luar negeri, menggunakan dana pribadi, setelah sebelumnya band ini menyatakan kekecewaannya pada pemerintah. Hal-hal semacam ini harusnya tidak terjadi, jika memang negeri ini ingin memperkenalkan “duta musik” nya di kancah internasional.

Apakah “Hari Musik Nasional”, hanya akan berakhir menjadi sebuah perayaan tanpa isian di dalamnya. Kalau pun ini jadi sebuah perayaan, apa memang yang ingin dirayakan? Mengingat musik yang hadir di arus utama tidak tampil meyakinkan, untuk bisa merepresentasikan wajah musik Indonesia, jika dilihat dari segi esensi maupun estetika karya nya. Namun untungnya, selalu ada anak muda yang membuat perubahan di tiap zaman dia berdiri sebagai anak bangsa. Salah satunya lewat pergerakan musik bawah tanah, yang makin hari makin bergairah, dengan pilihan musik beragam, maupun pola-pola baru yang berwarna, baik dari sisi kreativitas bermusiknya itu sendiri, maupun pola-pola kreatif memperkenalkan karya, lewat beberapa indie label baru, maupun acara-acara yang digagas mandiri, dengan ragam konsep dan tema yang menarik. Lewat hal ini mungkin pada akhirnya “Hari Musik Nasional” terasa relevan, sebagai sebuah pergerakan anak muda yang berkreasi lewat musik.

BACA JUGA - Ternyata, Musisi Luar Pakai Nama “INDONESIA” Sebagai Identitas Karyanya

COMMENTS

You must be logged in to comment.

RELATED NEWS

Website ini hanya diperuntukkan bagi Anda yang berusia 18 tahun ke atas.