Lagu Cinta Dalam Katalog Musik Tanah Air

Lagu Cinta Dalam Katalog Musik Tanah Air

Keengganan para fakir asmara bersentuhan dengan bulan Februari yang katanya penuh cinta ini, seakan berjalan beriringan dengan penolakannya terhadap lagu-lagu cinta.

Setidaknya tercatat beberapa musisi/band mempunyai lagu berjudul “Cinta Adalah”, dari mulai Iksan Skuter, The Overtunes, /rif, hingga Jamrud. Satu hal yang lucunya dijawab oleh Dewa 19 saat mereka merilis lagu “Cinta Adalah Misteri”. Namun selayaknya arti kata misteri, yang jika merunut pada kamus besar bahasa Indonesia, adalah sesuatu yang masih belum jelas (masih menjadi teka-teki, masih belum terbuka rahasianya), sehingga secara mendasar melampaui daya tangkap manusia. Itu berarti, lagu dari Dewa 19 pun belum sanggup menjawab apa definisi sesungguhnya dari cinta itu sendiri. Grup musik D’Masiv malah sampai membuat lagu berjudul “Cinta Ini Membunuhku”, saking bingungnya menjawab apa definisi dari cinta.

Dari hasil mesin pencarian Google, lagu cinta tertua di dunia ditulis sekitar 4000 tahun yang lalu, dan berasal dari daerah diantara Sungai Tigris dan Efrat. 4000 tahun setelahnya lagu cinta masih jadi primadona bagi banyak musisi dalam berkarya. Ada yang dengan gamblang menuliskan kata cinta dalam judul dan lirik lagunya, ada yang menganalogikan cinta dengan interpretasinya masing-masing, bahkan ada juga lagu yang mengeja cinta layaknya anak SD belajar membaca, seperti...“Bertahan satu c.i.n.t.a...” (you sing you lose).

Masuk bulan Februari yang kadung identik dengan bulan penuh cinta ini, beberapa orang beranggapan jika bulan ini adalah bulan yang menyeramkan, mengingat cinta masih jadi pertanyaan, apakah wujudnya sudah terasa dekat? Atau masih sejauh prestasi timnas maju ke pentas piala dunia? Keengganan para fakir asmara ini bersentuhan dengan bulan penuh cinta, seakan berjalan beriringan dengan penolakannya terhadap lagu-lagu cinta.

Satu hal yang kemudian dikeluhkan oleh Efek Rumah Kaca melalui lagu “Cinta Melulu”. Trio pop minimalis ini menyoroti tentang formula pembuatan lagu-lagu cinta, yang tidak jauh dari perselingkuhan, elegi patah hati, atau ode pengusir rindu, yang dikemas dengan nada-nada minor, lalu dilempar ke pasaran dengan semua ke-banal-an- dan ke-klise-an tema ini.

Pertanyaannya adalah, apakah membuat lagu cinta itu sebuah kesalahan? Jawabannya, tidak. Namun jika semua lagu cinta mempunyai sudut pandang yang sama, tentunya selain membosankan juga akan terasa banal. Tema lain di luar pembahasan soal cinta, seperti politik atau agama sekalipun, jika disajikan dengan formula yang sama, juga akan terasa membosankan.

Tentu kita masih ingat saat grup musik Gigi merilis album religi dengan balutan musik rock yang terasa ‘fresh’ dan cutting edge pada masanya, hingga berujung pada banyaknya band-band lain yang mengekor eksplorasi musikal Gigi dalam menggarap lagu religi. Hasilnya, tentu saja banal. Karena selain tidak disajikan dengan garapan musik yang serius, banyaknya lagu-lagu religi yang bertebaran juga hanya menangkap momen saja, tidak dibarengi dengan pemaparan yang ‘dalam’, padahal ini hal krusial tentang manusia dan tuhannya.

Namun lepas dari itu, lagu cinta menemukan bentuk lain ketika disajikan dengan musik yang  terbilang anomali untuk tema-tema cinta. Sebut saja dua band cadas asal Bandung, Dinning Out dan Forgotten yang menuliskan kata cinta pada judul lagunya. Menariknya kata cinta disini disajikan dengan angle berbeda dari yang biasanya kita dengar dari musisi-musisi spesialis lagu cinta. Misalnya saja pada lirik lagu “Aku Jatuh Cinta” milik Forgotten yang menuliskan “aku jatuh cinta, pada penjarahan, aku jatuh cinta, pada pembakaran”.

Addy Gembel, selaku orang yang paling bertanggung jawab pada penulisan lirik-lirik lagu Forgotten, sepertinya memang punya ketertarikan berlebih dengan tema-tema kehancuran, kekacauan, atau kemarahan, hingga meski dirinya bicara tentang cinta, namun tetap disajikan dengan sesuatu yang chaos. Bagaimana tidak? Ketika banyak lagu menyarankan untuk menyatakan cinta dengan bunga atau jalinan prosa dan ukiran kata-kata dari bung Fiersa, Mr Gembel ini malah menuliskan lirik seperti ini.... “nyatakan cinta dengan lemparan batu, dengan sebotol molotov, dengan pembakaran. Anjing setan babi edan, makan terus sampai kau kenyang, anjing setan babi edan, aku adalah hembusan nafas terakhirmu”. Di tangannya, cinta jadi terasa menakutkan, alih-alih bisa melenakan seperti bualan prosa para selebtwit dan selebgram di berbagai unggahannya.

Serba-serbi lagu-lagu cinta dalam katalog musik tanah air mungkin akan terus ada, selama masih banyak orang yang ‘mengulik’ perasaannya untuk kemudian disajikan kepada khalayak banyak. Mungkin masih segar dalam ingatan kita ketika ada video viral tentang klarifikasi putusnya jalinan kasih sepasang muda-mudi di Youtube, yang padahal tidak ada urgensinya untuk kita harus tahu alasan kenapa mereka putus hubungan. Namun toh nyatanya video itu disaksikan begitu banyak orang, dan tidak sedikit juga yang terbawa perasaan dengan video itu. Selama pola-pola seperti itu ‘dimakan’, rasanya selama itu pula lagu-lagu cinta akan mendapatkan tempat.

BACA JUGA - Ketidakwarasan Kolektif Irama Lagu Cinta

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner