Iksan Skuter 'Bingung’ dengan Buku Antologi Lirik

Iksan Skuter 'Bingung’ dengan Buku Antologi Lirik

Tidak banyak musisi yang berani merilis sebuah buku. Anggapannya, karya seorang musisi adalah musik, bukan buku yang isinya tulisan. Bagi seorang musisi solois dan menyanyi, tentu ada beban lebih ketika proses kreativitas karya dimulai. Selain memikirkan komposisi musik, penulisan lirik juga menjadi sebuah proses yang juga tidak kalah melelahkan. Terlebih bagi musisi atau penyanyi yang mengusung konsep musik balada, di mana musik dan lirik harus menjadi kesatuan yang saling melengkapi sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat diterima oleh penggemarnya.

Adalah Iksan Skuter, satu nama dari segelintir nama musisi yang berani melakukan hal itu. Bekerjasama dengan penerbit asal Yogyakarta, Warning Books di bulan September 2019 merilis sebuah buku yang isinya kumpulan lirik yang pernah dibuat oleh Iksan Skuter selama karir bermusiknya. Musisi balada asal Malang yang terkenal produktif merilis album mencoba mendokumentasikan hasil karya berupa lirik-lirik lagu yang pernah dia tulis. Buku ini seolah menjadi media yang merangkum segala perasaan dan ekspresi yang pernah dituangkan oleh Iksan. Perayaan perilisan terjadi pada 14 Februari 2020 di Yogyakarta dengan melibatkan Iksan Skuter, Jason Ranti dan Umar Haen dalam sesi Gelar Wicara, dan penampilan dari Sisir Tanah juga Kopibasi.

Melalui barisan teks dalam buku ini, kita diajak untuk membaca kembali segala macam peristiwa dengan segala emosi di dalamnya tanpa harus mendengarkan musiknya. Ini bisa menjadi semacam antologi puisi jika saja Iksan Skuter adalah seorang penyair, bukan musisi balada. Buku ini terbagi menjadi enam bagian yang masing-masing bagian merangkum berbagai tema yang pernah hadir di karya lagu Iksan. Contohnya, seperti Bab Perayaan yang memuat lagu-lagu Iksan dengan tema sukacita dan rasa syukur.

Dibanderol harga Rp60.000,-, total ada 60 lirik lagu yang terangkum dalam buku "Bingung" yang dikemas dalam 162 halaman. Di tiap lembar halaman hadir gambar ilustrasi karya Bayu Widodo dan foto-foto Iksan dalam berbagai pose. Paduan ilustrasi yang mencoba menggambarkan dan menguatkan makna dari tiap lirik.

Yang disayangkan adalah justru tidak ada tulisan ‘menyapa’ dari Iksan Skuter tentang buku antologi lirik ini. Setidaknya, muncul eksplanasi mengapa buku ini harus hadir dan seberapa penting lirik tersebut harus hadir, hingga menjadi penanda perasaan yang pernah dialami oleh seorang Iksan Skuter.

Namun, akhirnya buku ini menjadi penting sebagai bukti hadirnya peradaban di ranah musik. Seperti yang pernah saya tulis di artikel tentang literasi musik bahwa teks adalah bentuk dari bagian dokumentasi yang dapat dibaca dan dipelajari ulang sebagai sumber ilmu pengetahuan. 

BACA JUGA - Iksan Skuter dan Balakosa; Sebuah Perjalanan Spiritual dan Introspeksi

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner