'Folk Is Dead': Di-Harakiri Iksan Skuter, Demi Kematian yang Lebih Berwibawa

'Folk Is Dead': Di-Harakiri Iksan Skuter, Demi Kematian yang Lebih Berwibawa

Foto didapatkan dari manajemen Iksan Skuter.

"Jargon itu bisa diartikan sebagai suara rakyat yang kemarin diambil penguasa sudah hilang, atau definisi lain bahwa sebelum musik folk dibunuh oleh sebuah industri manufaktur, lebih baik ku bunuh duluan. Kematiannya lebih berwibawa."

Pada artikel sebelumnya, kami membahas seputar Iksan Skuter dan Balakosa, album sekaligus tur yang mengantarkannya pada sebuah perjalanan spiritual dan fase introspeksi. Album Balakosa sebagai album ke-sebelas dari Iksan Skuter adalah kumpulan cerita yang ia rangkum dari kejadian-kejadian sehari-hari, sebagaimana album-album sebelumnya yang merespon situasi sekitar sebagai mesin pun choke-nya. Di sini, kisah dari Iksan Skuter kembali dilanjutkan.

Mungkin kita semua bisa mengaminkan bahwa apa yang terjadi di ruang hidup, terutama di negeri kita, memang mudah mengundang reaksi spontan. Pengguna jalan raya yang tidak becus ambil jalur, gosip-gosip murahan yang berseliweran di dunia maya, anggota dewan yang hobinya tidur di ruang rapat, oknum yang korupsi milyaran dan malah lenggang kangkung tanpa hukuman yang setimpal adalah beberapa contoh yang secara tidak sadar mengundang kita untuk cepat merespon, mengumpat dengan kata "anj*ng", misalnya, sebagai contoh termudah.

Atau juga kenyataan lain yang juga mudah kita temui di pojok-pojok kota: rumah-rumah tak layak huni, selokan yang tersumbat sampah, antrian warga "membeli" air bersih, anak berseragam mengamen di jalanan, atau seorang nenek mencuri singkong karena kelaparan. Ini pun jadi beberapa hal yang melatih kepekaan kita dalam merespon situasi. Tidak kah kita tergerak untuk ingin membantu? Atau minimal bertanya dalam hati: apakah mereka baik-baik saja?

Tapi, kita tidak bisa mengesampingkan betapa indahnya negeri kita ini. Masih ada alam-alam yang terjaga, sungai-sungai jernih menghidupi perkampungan yang ia lewati, pohon-pohon rindang dengan kesejukan yang tak henti ia bagi, juga manusia-manusia berbudaya yang hormat pada bumi dan leluhurnya. Negeri kita memang menawarkan banyak opsi: apakah ini waktumu untuk marah, berempati atau bersyukur?

Iksan Skuter adalah salah satu manusia yang sadar dan peka akan itu. Bahwa banyak sekali yang bisa ia respon di lingkungan sekitarnya, dan lewat media yang ia kuasai yaitu musik, ia menyanyikan pikirannya. Tak ayal, materinya tak pernah habis, menjawab bagaimana ia bisa membuat sebelas album dalam kurun waktu tujuh tahun. Ia seringkali merasa gemas dan tidak puas dengan karya yang sudah ia buat. Ia masih merasa bahwa banyak sekali yang mesti ia tuangkan, meski pada akhirnya ada pertimbangan manajerial yang membuatnya harus berkompromi.

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner