Biar Dadas, Tetap Cadas dan Waras; Aksi Langsung Komunitas Lawan Covid-19

Biar Dadas, Tetap Cadas dan Waras; Aksi Langsung Komunitas Lawan Covid-19

(*dadas adalah ungkapan bahasa sunda yang dalam bahasa pergaulan sering diartikan kepada kondisi kekurangan uang atau bangkrut*)

Bagi industri hiburan musik, dunia terasa runtuh ketika secara resmi pemerintah mengumumkan aturan terkait pembatasan sosial ketika pandemi Covid-19 mulai merebak di Indonesia. Pembatasan sosial artinya setiap aktivitas berkelompok akan dibatasi. Perpindahan manusia dan segala macam bentuk pengumpulan kerumunan manusia menjadi bentuk dari kejahatan sosial. Bagi kawan-kawan musisi yang mengandalkan hidupnya dari dunia hingar bingar dan panggung hiburan, aturan ini ibarat menerima surat PHK tanpa pesangon. Semua izin keramaian terkait penyelengaraan acara konser musik dibatalkan selama pandemi Covid-19 ini berlangsung. Dan sialnya, tidak ada yang tahu kapan bencana ini akan berakhir. Semua hanya berupa prediksi tak pasti yang hasilnya bisa berubah kapan saja.    

Musik dan kemanusiaan adalah dua keping mata uang yang tidak dapat  terpisahkan. Musik adalah bagian dari ekspresi rasa yang dimiliki oleh setiap manusia. Musik adalah media manusia yang memiliki pendengaran untuk mengolah rasa dan emosi yang diwujudkan dalam rangkaian ritmik dan nada. Musik adalah bagian dari kesadaran estetika manusia dalam merespon kenyataan. Di tengah situasi yang muram ini, musisi atau orang yang hidup dari dunia musik dihadapkan pada situasi yang paradoks. Satu sisi, situasi sulit ini bisa menjadi energi inspirasi yang besar, karena semenjak pemerintah menetapkan kebijakan bekerja dari rumah tentu akan banyak waktu bagi para musisi untuk melakukan eksplorasi dan menyerap energi kreatif yang ada di sekitar mereka.

Di sisi yang lain, justru keadaan sekitar yang dipenuhi oleh bencana sosial, seperti orang-orang yang terpaksa harus kehilangan pekerjaan, kehilangan tempat tinggal, rawan pangan yang mengancam dan ruang gerak yang dibatasi bisa menghadirkan kecemasan baru yang berlebihan. Sebagian merasa bahwa justru kontrol negara dianggap berlebihan dengan dalih melindungi dan menyelamatkan warganya dan mencegah virus Covid-19 menyebar lebih luas lagi. Mereka nilai pembatasan sosial yang diberlakukan tidak sejalan paralel dengan upaya untuk melindungi hak-hak dasar warga negaranya. Jaminan sosial yang masih diskriminatif dan perlindungan bagi pekerja yang terkena PHK juga dinilai masih jauh dari ideal. Situasi inilah yang pada akhirnya mendorong beberapa kelompok sipil untuk melakukan inisiatif untuk bergerak secara mandiri mengurangi dampak krisis Covid-19 yang terjadi di sekitar mereka.

Salah satu inisiatif sipil yang juga terus bergerak hadir dari kalangan musisi. Muncul kesadaran kolektif yang terjadi secara alami di kalangan para musisi yang bermuara pada satu kesimpulan bahwa krisis ini bisa segera berakhir dengan cara menebar semangat kolektif, bahu membahu di segala sektor untuk bisa mencegah penyebaran virus dan dampak sosial yang ditimbulkan. Jika ini konsisten dilakukan, maka semua akan segera keluar dari krisis dan bisa beraktivitas dengan normal kembali. Disadari atau tidak, semua upaya inisiatif itu pada akhirnya mampu menjadi penyeimbang dari dominasi dan kontrol negara terhadap situasi yang terjadi di masyarakat.

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner