Album Terbaru Shaggy Dog: Biang Pesta Yang Kembali Menggonggong

Album Terbaru Shaggy Dog: Biang Pesta Yang Kembali Menggonggong


Lima album, single di berbagai kompilasi lokal dan internasional, jadwal panggung padat dan beberapa kali menyambangi panggung internasional di Eropa hingga Amerika. Ditambah pengalaman pernah menjual motor demi rekaman, dicaci fans karena bergabung dengan label besar, berpindah-pindah label, hingga akhirnya akhirnya mantap berjalan dengan label sendiri dan kini menjadi salah satu nama terbaik ska/reggae dalam peta musik nasional dengan jumlah penggemar yang masif.

Itu secuil tentang band asal Jogjakarta Shaggydog yang baru saja merilis album barunya bekerja sama dengan anggur Orang Tua, dibantu seniman Agan Harahap yang menggarap sampul albumnya dan proses mastering-nya dikerjakan di Abbey Road Studio, London. Album kaya nuansa ini juga menghadirkan beberapa bintang tamu seperti Tonny ‘The Weed’ dari Jepang, Sujiwo Tejo, DJ Kateratchy, Danar Pramesti dari Souljah, dan rapper Iwa K.

BACA JUGA - Di antara Jeritan Perempuan dan Teriakan Lelaki

Setelah album Bersinar pada 2009, dibutuhkan tujuh tahun untuk merilis album baru karena padatnya jadwal pangung mereka. Sehingga mengharuskan Heruwa (vokal), Richard dan Raymond (gitar), Banditz (bass), Lilik (kibor) dan Yoyok (drum) untuk menjalani karantina menginap 10 hari di sebuah villa di Kaliurang untuk menggarap dan merekam album keenam mereka Putra Nusantara yang dirilis pada 17 Agustus 2016 kemarin. Tujuh tahun adalah sebuah penantian yang cukup lama dan sangat ditunggu oleh penggemarnya terutama saya.

Saya sendiri adalah penggemar yang tergila-gila dengan album Kembali Berdansa (2006) yang esensial itu. Karena di album itu Shaggydog seperti menemukan formula album ska/reggae ngepop dengan rasa Indonesia yang menjadi ciri khas mereka ke depannya. Formula yang juga kita temukan di album ini. Ramuan ska/reggae/dub dengan ragam genre dan dinamika album album yang diracik apik. Berbagai mood dari ska tempo tinggi, reggae/dub pesta goyang maksimal, reggae/dub yang laid back hingga lagu akustik hadir melengkapi. Selain itu musik ska/reggae berkelas Shaggydog -bukti luasnya referensi musik mereka- dan sikap menghargai roots dan ideologi musik Jamaika adalah hal lain yang membuat saya setia dengan band ini.

Shaggydog datang dari kultur jalanan. Dan mereka menjaga hal itu melalui lagu pembuka “Kere Hore” yang meriah dengan membicarakan kegelisahan anak-anak tongkrongan di jalanan yang kurang beruntung. Tidak sekedar basa-basi, ada kejujuran menarik pada lagu ini. “Sabtu malam di perempatan/ seperti biasa dengan pasukan/ Kulihat kantongku tak ada isinya/ Mulai bete dan cari-cari masalah”. Tak punya uang ya sudahlah, tapi jelas tak mengapa kalau jadi kesal karenanya. Jeli. Di lagu kedua tensi diturunkan untuk membahas isu serius lewat lagu “Pion”. Pandangan mereka tentang kondisi politik Indonesia ini dibalut oleh musik yang diperkaya oleh Sujiwo Tedjo yang mengisi saksofon dan menembang suluk sehingga memberikan nuansa tradisional yang menarik.

Berikutnya ada “Suka Reggae” yang berirama kalem tapi rawan membuat kepala mengangguk-angguk pasti. Mereka tidak lupa menyelipkan pernyataan penting musik Jamaika pada liriknya: “musik reggae musik orang-orang merdeka”. Lalu ada lagu “Putra Nusantara” upaya berani merilis single non-ska/reggae yang bernuansa hip-hop dan mengundang rapper Iwa K untuk membicarakan sesuatu yang nyata. “Pembangunan melaju, ada yang terlupa coba lihat ke jalan” menegaskan lirik sebelumnya “kota megah dan indah, tapi di balik itu semua ada cerita”. Sebuah pendewasaan yang layak mendapatkan tempat di hati.

Kejutan di tengah album hadir pada lagu bernuansa soul/funk klasik “Damai Sejahtera” yang langsung menjadi favorit. Selain memilik solo saksofon killer, lagu kalem ini menyadarkan karakter vokal Heru sebagai aset berharga Shaggydog. Saya selalu suka bagaimana ia patuh bernyanyi pada pakem notasi vokal musik Jamaika dengan pengaruh R&B tradisional tapi juga bisa begitu nyaman menyanyikannya dengan lirik bahasa Indonesia tanpa terdengar murahan. Sementara kita tahu salah satu poin penting musik Jamaika adalah penyanyi dengan vokal berkarakter. Dan perlu digaris bawahi tidak hanya merdu, Heru juga piawai melakukan toasting (rap ala Jamaika) yang juga selalu menjadi ciri khasnya. Perlu bukti? Bersiaplah diganyang oleh irama pelumat mikrofon di lagu “Rock Da Mic”. Sebuah lagu reggae/dub solid yang cocok menjadi anthem pesta. Di lagu ini Heruwa melakukan toasting menyerukan untuk berpesta dan bergoyang hilang kendali. Silahkan menyerah, angkat tangan dan serahkan diri pada para biang pesta ini.

Ada beberapa racun musik pop di album ini. Lagu “Kamu Di Hatiku” contohnya. Mungkin beberapa penggemar musik Jamaika garis keras akan sulit mencerna lagu ini. Namun lemesin aja, karena ramuan pop ini jitu sekali. Ada juga lagu gitar kopong-friendly berjudul “Pulau Impian” dengan tamu Dinar dari Souljah yang berduet dengan Heruwa sehingga menghasilkan lagu yang cocok untuk nongkrong-nongkrong. Peluru lain album ini masih banyak. Ada “Bianglala” yang gelap dan menyerukan tentang perbedaan yang masih menjadi isu sensitif di negeri ini. Kemudian lagu “Tonight” dan “Mimpi-Mimpi” yang romantis tapi tidak picisan. Terakhir ada “Bola Mania”  lagu anthemic tentang olahraga sepak bola. Bila itu tidak cukup, nantikan kejutan hidden track tersembunyi pada album ini yang juga menjadi favorit saya. Sebuah lagu nakal yang kental unsur lokalnya baik itu musik, tema maupun liriknya. “Lihat biduan menghampiriku, minta disawer seratus ribu, jadi tolong ambilkan gelas, Dik”.  

Teman-teman Shaggydog, kalian luar biasa ngehe’.

Foto oleh: Dokumentasi Shaggydog/Agan Harahap

       
Anto Arief

Vokalis/gitaris 70s Orgasm Club dan buruh musik untuk Musik Tulus. Suka nongkrong Dheg Dheg Plat, suka membaca tentang musik, serta penggemar film.

COMMENTS

You must be logged in to comment.

RELATED NEWS

Website ini hanya diperuntukkan bagi Anda yang berusia 18 tahun ke atas.