Rifky Bachtiar (Revenge): “Emang Sebenarnya Bikin Gigs Itu Harusnya Semudah Ini!”

Rifky Bachtiar (Revenge): “Emang Sebenarnya Bikin Gigs Itu Harusnya Semudah Ini!”


Para pengisi acara Everloud berbicara tentang menyiapkan gigs secara kolektif dan diselenggarakan pada tengah pekan

Everloud adalah acara yang berisikan lima band death metal berbahaya yang diselenggarakan pada Selasa, 20 Desember 2016 lalu. Acara ini dihelat di Borneo Beerhouse, Jalan Kemang Selatan VIII No. 5, Jakarta Selatan. Meski diadakan di tengah pekan, acara ini sangat sukses mendatangkan gerombolan anak muda penggila musik cadas dan menikmati keseluruhan acara Everloud. Inilah cerita seru dari Stevie Item (DeadSquad) dan Rifki Bachtiar atau RB (Revenge) mengenai Everloud.

Gimana ceritanya sampai Everloud ini bisa diadakan?

RB: Sekarang di Indonesia tuh udah minim banget gigs yang minimal tapi dengan crowd yang seru banget. Disini gue sama Stevie berusaha buat naikin euphoria dari gigs itu lagi. Kultur gigs tuh mau kami hidupkan lagi disini. Lihat sendiri kan, disini kebersamaannya tuh lebih ada dibanding kami main di festival, gak ada kekeluargaannya.

Stevie: Ini sebenarnya sama kayak festival juga sih, mini festival. Cuma, kami melakukannya dengan sangat impulsif, hahaha. “Bikin acara yuk?”, “tanggal berapa?”, “siapa aja yang main?”, “ini… ini… ini…”, “gue ajakin ya” “ya udah ayo ajak”, ya udah. Datang semua, telepon yang punya tempat ini, “gue mau bikin acara nih”, “ya udah ayo,” “tanggal berapa kosong?” “tanggal 20 kosong”, “oh ya udah ayo”. Udah begitu doang. Sebenarnya kami udah beberapa kali mau bikin acara. Baru sekarang bareng lagi DeadSquad sama Revenge, sama Djin, terus juga ada Masticator sama Aestees. Ini Aestees nih band baru, jadi ini juga semacam kayak kami mau ngajakin band-band yang baru. Nih teman-teman yang menurut kami keren. Diajak main di panggung dengan alat yang sama, di panggung yang sama, dengan crowd yang sama. Intinya sih ngajakin mereka, ngerangkul lah maksudnya. Kan memang harus ketemu ya, kan ada istilah tak kenal maka tak sayang. Jadi biar sayang ketemu dulu, hahaha…

RB: Kami pengen ngehidupin hiruk pikuk death metal gigs. Gak perlu muluk-muluk. Yang kayak gini udah happy banget. Kangen banget bisa main di acara kayak gini.

Kenapa hanya lima band yang manggung?

RB: Keterbatasan waktu sih. Tempat ini baru buka jam lima sore, loading barang aja sekitar jam tiga atau jam empat sore

Stevi: iya, open gate aja tadi jam setengah tujuh kayaknya sih, lalu acara mulai jam tujuh. Kalau misalnya band kebanyakan juga kasihan, nanti terlalu mepet kan, baru satu dua lagu udah ganti

RB: Iya, jadinya gak puas. Maksudnya, ya biar maksimal. Pertama lima dulu dan semua death metal. Kami pengennya nanti ada season duanya di tahun depan, dan mudah-mudahan jadi acara rutin. Disitu kami banyak-banyakin genre yang lain lagi. Crossover banyak disitu.

Everloud ini gak ada sponsor sama sekali ya?

RB: Gak ada sponsor. Emang sebenarnya gigs tuh harus semudah ini bikinnya. Gak butuh dana banyak. Kayak gini, kami punya teman-teman disini, dukung semua. Jadi, easy ya. Jadi gampang banget.

Mungkin gak di kota lain diadain kayak secret gigs lah istilahnya, dengan promo yang mendadak juga?

Stevie: Ya mungkin aja, tapi kami gak bakal kasih tau. Itu sangat bisa dilakukan lah, mudah-mudahan aja sih. Ini kan kita baru mau start lagi nih bikin rame-rame, biar bergairah lagi. Terutama di scene death metal. Mungkin dari sini berharapnya ada efek-efek teman-teman yang lain di pelosok-pelosok Jakarta sebelah sana juga bikin di tempat lain. Ada semacam Everloud-Everloud lagi. Supaya seru.

RB: Iya, itu bisa banget dilakukan. Sebenarnya kami bukan nyari keuntungan supaya acara ini harus gede banget, tapi kami pengen euphorianya tuh bangkit lagi. Jadi teman-teman lokal Event Organizer yang memang dulunya pemain gigs istilahnya, bisa timbul lagi keinginan untuk membuat seperti ini.

Jadi bakal ada lagi Everloud setelah ini?

RB: Ya, tentunya!

Stevie: Forever Everloud, hahaha…

Gimana tanggapan tentang crowd dan antusiasme penonton di Everloud?

RB: Seru banget! Itu kayak membuktikan kalau gigs itu gak harus weekend. Nyatanya Selasa, weekday bisa rame kok. Kami ngebangkitin semangat teman-teman. Kebanyakan kan Event Organizer sekarang mikir, pertama gue gak punya duit, kedua nggak tau mau dimana bikinnya, ketiga masalah waktu, takut kalo misalnya weekday gak ada yang datang. Ini sekarang kami buktiin, weekday bisa rame kok.

Stevie: Promonya juga gak harus terlalu jor-joran. Ternyata kami kangen juga dengan hal-hal seperti ini, jadi ya bersyukur lah. Pada datang, rame, teman-teman yang main juga senang. Intinya sih itu, ngumpul-ngumpul. Ini nih yang penting sebenarnya.

Apa nih pesan-pesan buat penggiat dan penggila death metal di Indonesia?

RB: Pesan saya sih buat teman-teman jangan sampai putus asa. Selalu akan ada harapan buat scene kita untuk maju. Kami disini bakal bikin lagi buat muasin batin kalian. Selalu ada harapan buat anak-anak metal, khususnya di death metal yang sekarang dinilai orang sekarang sedang turun euphorianya. Kami ingin bangkitin lagi dan di 2017 bakalan keren sih.

Acara Everloud diisi oleh lima band death metal yang mengerikan. Mereka adalah Masticator, Aestees, Djin, Revenge, dan DeadSquad. Sempat ditemui, inilah tanggapan dari Chiko dan David sebagai perwakilan dari Djin, band death metal asal Medan, dan Pagan, Rizal Arifin, dan Opik sebagai perwakilan dari Aestees yang juga sempat menjadi pemenang dari band DCDC ShoutOut.

Gimana pendapat tentang acara Everloud?

Djin: Wah gila, pecah men! Pecah asli, hancur, rusak, hahaha! Sambutan penontonnya gila. Mungkin, karena udah lama gak ada gigs yang fokusnya ke musik extreme death metal. Untuk ukuran weekday, ini benar-benar di luar dugaan, benar-benar luar biasa. Tapi, melihat dari line-upnya dan siapa organizernya, sangat wajar kalau acara ini bisa dibilang sangat sukses. Kami terbang langsung dari Medan untuk acara ini. Kami gak nyangka dengan tempat yang kecil ternyata crowdnya banyak, sesak. Kebetulan akhir tahun lagi kan. Wah, benar-benar sukses.

Aestees: Gila keren banget, pecah banget! Lima band dewa dewa semua. Band-band the best mampir semua disini, manggung semua. Acara ini benar-benar perfect! Meskipun acaranya weekday tapi yang datang itu benar-benar full. Mungkin Borneo Beerhouse ini gak cukup buat nampung anak-anak death metal di Jakarta. Ini benar-benar di luar ekspektasi kami. Acara ini weekday tapi chaos. Kami sampai susah keluar, panas banget di dalam, hahaha. Tapi keren banget acara ini. Band-bandnya juga keren-keren banget! Semua elemen ada. Progresif, bahkan psychedelic ada juga. Mereka semua idola kami, dan kami bisa sepanggung dengan mereka, kami merasa bangga. Terutama untuk Djin yang jauh-jauh dari medan.

Ada gak momen khusus buat Djin dan Aestees melalui acara Everloud?

Djin: Ya, ada. Ada satu lagu baru di lagu yang ke tujuh tadi kami bawain lagu yang baru. Dan itu bakalan kami rilis di tahun depan. Judul lagunya nya “Tabula Rasa”. Itu bahasa latin dari lahir kembali, sepolos bayi. Selain itu, kami juga punya line-up baru, yaitu vokalis dan gitaris yang baru.

Aestees: Kebetulan kami ada kontrak label dari Sepsis Records. Mereka ajak kami untuk jadi rooster dia, untuk main disini sekaligus promo. Insya Allah tahun depan di Bulan April kami bakal bikin debut album yang rencananya Agustus udah siap dirilis.

Apa pesan-pesan dari Djin dan Aestees untuk acara Everloud?

Djin: Kalau bisa acara ini gak hanya sekali. Semoga acara ini bisa jadi pilot utuk bangkitin lagi gigs death metal dan club gigs yang udah mulai jarang. Dengan banyaknya gigs, scene juga berkembang, talent baru dan regenerasi juga bakalan ada. Jadi ya mengutip kalimatnya Daniel, “who said death metal is dead?”. Tapi, memang kuncinya harus banyak gigs. Musician itu harus saling menginspirasi, kami nonton dia, dia nonton kami, kami buat yang lebih bagus lagi, kami bersaing secara sehat. Ada satu kualitas yang dihasilkan dari persaingan itu. Jadi, Indonesian death metal tuh makin joss.

Aestees: Syukur-syukur tahun depan ada event lagi kayak gini. Event kayak gini tuh gak boleh berhenti sampai disini aja. Harus terus ada. Karena animo metalhead Jakarta ini gede juga, gak kalah sama kota-kota lain. Enjoy kehidupan coy, jangan cuma kerja, hahaha. Weekday kami tetap bisa bersenang-senang. Hidup gak cuma dari jam sembilan pagi sampai jam lima sore, hahaha…

Mungkin gak sih Djin dan Aestees bikin acara yang serupa seperti ini?

Djin: Mungkin sekali. Kalau ada waktu dan tempat yang tepat, event organizernya semuanya fokus, orientasinya juga benar-benar untuk scene, saya rasa sih 2017 mungkin saja. Sekedar informasi, anak-anak Djin udah pernah bikin acara bareng-bareng dengan teman-teman death metal di Medan lainnya. Kami pernah bikin Medan Death Fest, pertama itu di 2011, yang kedua itu di 2014. Memang ada wacana di 2017 nanti kami mau bikin lagi. Karena, memang mungkin sama seperti di daerah-daerah lainnya, di Medan sendiri death metal juga lagi mencoba bangkit, karena semenjak 2014 memang terasa agak sepi. Ini juga jadi inspirasi sih buat kami ke depannya bikin gigs. Kami pengen buat yang seperti ini di Medan.

Aestees: Mungkin ke depannya, kalau album sudah jadi kami bakal bikin show. Sekarang, kami masih garap materi. Setelah album rilis, kami bakal hajar lah.

Last word buat death metal Indonesia?

Djin: Tetap berkarya, saling menginspirasi, saling support, dan semuanya ada di tangan kita. Kita keren, scene nya juga keren.

Aestees: Kami mohon tetap berkembang, terus maju, jangan sampai mau kalah dengan scene-scene yang lain. Pokoknya, death metal itu the best lah di Indonesia.

COMMENTS

  • burket

    burket

    3 weeks ago
    kota lain juga udah sering secret gigs
You must be logged in to comment.

RELATED NEWS

Website ini hanya diperuntukkan bagi Anda yang berusia 18 tahun ke atas.