Nerv.ous: “Rilisan Ini Adalah Jawaban  Dari Pertanyaan Selama Lima Tahun Ini”

Nerv.ous: “Rilisan Ini Adalah Jawaban Dari Pertanyaan Selama Lima Tahun Ini”


Datang dari Yogyakarta band indie rock Nerv.ous bercerita tentang proses kreatif dan rilisan album yang telah sempat lama tertunda

Perkembangan musik hari ini sepertinya sedang bergejolak. Makin hari, makin banyak band yang membuktikan eksistensinya dengan menghasilkan karya-karya yang mereka abadikan dalam bentuk EP atau album full-length. Tak terkecuali dengan band indie rock asal Yogyakarta, Nerv.ous. Setelah lima tahun tertunda, akhirnya mereka merilis debut album self-titled setelah di 2009 sempat merilis sebuah EP. Kali ini, mereka lebih matang untuk kembali terjun di tengah hangatnya persaingan di kancah skena independen tanah air, terutama indie rock yang sedang menjamur. Inilah sedikit cerita yang dibagi oleh Nerv.ous terkait albumnya.

Bagaimana cerita dari pembuatan album Nerv.ous? Mengapa prosesnya terbilang cukup lama?

Materi album ini sudah kelar di tahun 2011. Tetapi, karena ada kendala di sana-sini akhirnya bisa rilis juga di tahun 2016. Kami merasa lega dan puas tentu saja. Kami menghadapi kendala diantaranya proses mixing dan mastering yang cukup menyita waktu. Dari berpindah-pindahnya proses pasca rekaman itu, kami mendapat masukan dari berbagai pihak yang membuat album ini menjadi lebih matang. Mungkin kalau dulu memaksakan rilis tidak lama setelah tahun 2009 akan menjadi berbeda sekali hasilnya. Tapi, pencarian label rekaman juga kendala jarak dan komunikasi dikarenakan satu personil yang tinggal berbeda kota. Untuk proses dan perekaman lagu dilakukan oleh semua personil Nerv.ous. Untuk departemen konsep dan cover album, kami berkolaborasi dengan Farid Stevy (seniman Jogja/vokalis band FSTVLST). Untuk foto kami berkolaborasi dengan Kemal Yusuf (fotografer Jogja). Untuk video work berkolaborasi dengan Anggito Rahman (videographer/vokalis band Sungai). Untuk video klip “Lagu Angsa” berkolaborasi dengan Volo Creative House, dan album ini dirilis dibawah label Yellow Records asal Jogja.

Mengapa Nerv.ous memilih Farid Stevy Asta untuk mengerjakan artwork dari album ini?

Ada sisi romantisme, karena kami sudah berteman lama dan sempat tur bersama. Selain itu, kami sangat menyukai karya-karya yang dihasilkan oleh Farid Stevy Asta, dan kebetulan beliau mau membantu kami untuk ikut berpartisipasi dalam pembuatan album Nerv.ous ini. Jadi, kenapa tidak? Hehehe…

Dari variasi tema yang diangkat, sebenarnya apa yang sedang ingin Nerv.ous ceritakan di album ini?

Tema reflektif dari apa yang dialami dan dirasakan oleh individu terhadap lingkungan sekamir.

Apa hal spesial yang ditawarkan dalam album Nerv.ous?

Akhirnya kami bisa rilis album lagi setelah tahun 2009. Hal baru yang ditawarkan adalah musik yang lebih berwarna dibandingkan EP perdana kami, One for A Brighter Future.

Referensi apa saja yang dilirik oleh Nerv.ous ketika merampungkan album perdana ini?

Sebenarnya tidak ada influence yang paling kuat kalau merujuk pada pembuatan album. Kami bertemu pertama kali dengan influence musik yang kuat satu sama lain dan bisa dibilang jauh berbeda. Justru, di album ini kami mencoba proses yang bisa diibaratkan seperti ngobrol buat mencari kesepakatan bersama. Pasti ada yang dominan ingin mengutarakan pendapat kan satu sama lain, oleh karena itu lagu-lagu di album ini bisa dikatakan lintas genre. Nah, dari beberapa lagu tersebut akhirnya muncul kesepakatan di “Lagu Angsa” yang kami anggap bisa mewakili semua ide dari proses “ngobrol” kami selama ini.

Sebutkan lima band indie rock lokal yang jadi pengaruh kalian?

Untuk lokal Indonesia, kami memilih Seek Six Sick, Melancholic Bitch, Sorra, Lull, dan Kubik.

Selain musik atau band, kira-kira apa lagi yah yang mempengaruhi proses bermusik kalian?

Komunitas lintas disiplin yang mudah bersinggungan di Yogya, wilayah seni rupa, desain, sastra, dan lain-lain. Pekerjaan dan mood juga mempengaruhi secara langsung, entah bikin malas atau tambah semangat, haha…

Mengapa “Lagu Angsa” ditunjuk menjadi single pertama dan digarap video klipnya?

Selain karena terjadinya kesepakatan melalui lagu ini (yang menghabiskan banyak waktu) seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, juga karena dalam lagu ini kami ingin menggambarkan sebuah kejadian nyata pada tujuh tahun silam. “Lagu Angsa” menceritakan tentang seorang perempuan yang melompat dari lantai lima sebuah pusat perbelanjaan besar di Jakarta. Tak lama kemudian, seorang lelaki melompat—juga dari lantai 5—di pusat perbelanjaan lain di Jakarta. Tak diketahui hubungan keduanya, namun menurut keterangan resmi, sang perempuan berada di ibukota untuk berobat atas penyakit kronisnya. Sayangnya, kebanyakan media pada saat itu hanya menyorotinya dari satu sudut pandang saja, di mana si korban dihubung-hubungkan dengan depresi yang diakibatkan permasalahan ekonomi hingga memilih bunuh diri di pusat perbelanjaan. Padahal ada cerita dibalik itu yang menurut kami lebih penting untuk disimak. Nah, meramu lirik dan musik untuk menggambarkan kejadian itu dari sudut pandang yang berbeda dengan jelas  menjadi tantangan tersendiri buat kami. Kurang lebih video klip “Lagu Angsa” itu representasi dari inspirasi dan lirik yang ada di dalam lagunya, sih.

Yogyakarta memiliki kelebihan dari banyaknya nilai lokal, apakah kalian tertarik untuk mengeksplorasi kelokalan?

Kami sebenarnya sudah mulai mencoba memasukan beberapa hal yang merujuk pada lokal (Yogyakarta) sendiri, seperti salah satunya di lagu "23". Untuk kedepannya, bisa-bisa saja, tergantung nanti ketemu flownya bagaimana dan moodnya bagaimana, hehe.

Menurut Nerv.ous, bagaimana perkembangan skena indie rock di Yogyakarta?

Mulai banyak bermunculan band-band indie rock baru yang dibalut dengan sentuhan genre lain. Ada semacam gelombang dan muka baru di ranah scene ini. Menarik dan bergejolak!

Indie rock tampak sedang naik akhir-akhir, apa kira-kira kelebihan Nerv.ous dibandingkan band indie rock lainnya?

Kayaknya biar para pendengar yang menjawab pertanyaan ini, hehehehe…

Bagaimana respon para penyuka indie rock terkait rilisan album dari Nerv.ous?

Untuk teman-teman band dan komunitas seangkatan, rilisan ini adalah jawaban  dari pertanyaan mereka selama lima tahun ini, hahaha… Untuk teman-teman baru mungkin bisa dijadikan perkenalan awal kepada musik yang dibuat oleh kami.

Apa pesan dari Nerv.ous untuk teman-teman penggiat maupun penyuka indie rock, baik di Yogyakarta maupun yang tersebar di Indonesia?

Jikalau memungkinkan tetaplah menghasilkan karya, selalu bikin movement dalam bentuk gigs dan dokumentasi sehingga ada rekam jejak.

COMMENTS

You must be logged in to comment.

RELATED NEWS

Website ini hanya diperuntukkan bagi Anda yang berusia 18 tahun ke atas.