Lightcraft : “ Karena Ada Banyak Sekali Jalan Untuk ke Luar Negeri”

Lightcraft : “ Karena Ada Banyak Sekali Jalan Untuk ke Luar Negeri”


Perjalanan Lightcraft yang merupakan salah satu band tanah air yang acap kali bermain musik di luar negeri.

Lightcraft merupakan salah satu band  asal kota Jakarta yang telah memulai karir di era musik indie tengah dalam puncaknya. Dari awal mula berkarir, Lightcraft yang kini berkutat pada alur musik indie rock/dream pop telah banyak menelurkan beberapa karya musik diantaranya E.P The Modern Seasons (2006), debut album Losing Northern Lights (2008), album sophomore  Colours of Joy (2013), kaset mini kompilasi yang berjudul  Love Songs & Lullabies (2015) di bawah Nanaba Records, sebuah split dengan Misashi Records yang juga menampilkan band indie-rock asal Amerika Serikat Wyland yang berjudul Kindred Spirits, dan terakhir E.P terbaru mereka Another Life EP (2016).

Selain itu juga band yang kini beranggotakan 4 pemuda Imam Mbudz (vocals, electric guitar, acoustic guitar, effects, synths, percussions, words), Enrico (piano, keyboards, synths, laptop, MIDI controller, backing vocals), Fari (electric guitar, effects, backing vocals),dan Yopi (drums, percussions, sampling pad, backing vocals), sering menghajar panggung-panggung di luar negeri untuk mengisi beberapa acara musik/festival di sana yang juga menuai beberapa pengalaman menarik kala mereka saat mereka di sana.

Setelah sekian lama bermusik, faktor apa yang membuat Lightcraft hingga kini masih bertahan?
Kami merasa bahwa musik dan bermusik itu tidak ada matinya. Bermusik sudah melebihi sebuah passion yang hanya dilakukan sebagai hobi. Maka dari itu, walaupun di umur kami yang sudah cukup lanjut ini, pekerjaan kami yang banyak menyita waktu dari bermusik, dan keluarga masing-masing yang perlu kami hidupi, kami tetap bertahan dan tetap berkarya. Itu, dan juga karena kami cukup gila untuk masih mencoba menggapai impian kami dalam musik!

Dari segi genre kalian mengusung dream pop/Indie Rock,  namun konsep musik indie-rock seperti apa yang kalian racik dalam musikalitas, apakah berkaitan dengan hal pribadi atau ada hal lainnya ?
Sebenarnya kami sendiri tidak tahu genre kami apa. Kami selalu mendeskripsikan musik kami sebagai indie rock agar at least ada jawaban kalau ditanya (tertawa). Kata dream pop baru muncul belakangan setelah ada orang yang menyebut musik kami sebagai dream pop. Jadi kita go with the flow saja. Indie rock kan luas ya sebenarnya definisinya – begitu juga dream pop –jadi bagi kami itu hanya sebuah label saja. Secara konsep, kami menulis apa yang ada di hati dan kepala kami, berdasarkan inspirasi yang datang dari berbagai sumber, termasuk kehidupan pribadi, lagu-lagu yang kami dengar, keadaan sekeliling kita, dll.

Bisa diceritakan nggak bagaimana awal mula kalian membangun jaringan di luar negeri ?
Kalau dibilang jaringan juga sebetulnya tidak ada jaringan juga ya – hanya teman-teman yang kebetulan muncul di kehidupan kami dan mau membantu menyebarluaskan musik kami. Yang paling penting adalah berani nekat dan ikhlas. Mungkin dibantu juga dengan waktu kami studi di Malaysia. Setiap kali kami dapat kesempatan ke luar negeri, kami selalu berusaha untuk berteman dengan siapa pun. Untungnya mereka juga open dan friendly. Satu lagi adalah pergunakanlah Internet, karena ada banyak sekali jalan untuk ke luar negeri, apa lagi dengan kualitas band-band di Indonesia yang sebenarnya bagus-bagus.

 

Lalu, ketika setiap kalian bermain di luar negeri, hal unik seperti apa saja yang kalian rasakan ketika bertandang keluar negri tersebut ?
Beda tempat, beda atmosfir. Terutama untuk manggung, terasa ada perbedaan dibandingkan saat main di negeri sendiri – baik itu dari segi penonton, band-band yang main bersama kami, dan lain-lain. Mereka cenderung lebih terbuka dari segi musik dan juga dari segi pertemanan. Tentunya, kami juga selalu mencoba untuk merasakan dan meresapi kultur dari setiap tempat yang kami kunjungi – dan juga cuacanya! Dunia ini sebenarnya sangat indah.

Lalu, setiap kali ada undangan bermain di luar negeri, apa saja yang kalian siapkan selain kesehatan fisik ?
Uang sebanyak-banyaknya! (tertawa) Di samping itu, kesiapan mental sangat penting, karena jika kami bermain di tempat yang belum pernah kami datangi, pasti akan menjadi pengalaman yang sangat berbeda. Kalau waktu dan finansial mengijinkan, kami akan riset untuk mencari kesempatan-kesempatan tampil di luar main event. Menentukan lokasi tempat tinggal juga penting jika disediakan oleh organiser – antara dekat dengan bandara udara atau dengan venue penampilan. Saya pribadi suka hunting CD, jadi saya akan selalu melakukan riset mengenai CD/record shops di kota tujuan. Selain dapat mencari CD yang tidak ada di Indonesia, dapat juga menjadi kesempatan untuk menjual CD sendiri!

Lalu yang membuat unik, adalah split album kalian dengan Wyland yang bertajuk “Kinder Spirit”, bisa diceritakan tentang konsep dalam split album tersebut ?
Pada saat itu, kami sedang di dapur rekaman untuk menyelesaikan EP Another Life. Tadinya kami berencana untuk merilis single “Another Life” sebelum EP diluncurkan, tapi masih bingung dalam format apa. Atas saran dari Jodi Setiawan dari Nanaba/Misashi Records, kami memutuskan untuk menjadikannya dalam format mini CD. Jodi lalu menambahkan mungkin kami mau mencari “partner” agar sekalian buat split. Kami langsung terpikir teman-teman kami Wyland dari New Jersey, Amerika Serikat, yang kami pertama kali berjumpa saat main di panggung yang sama di Toronto, Kanada, saat Canadian Music Week (CMW) 2015. Kami juga sempat berbagi panggung lagi di bulan April kemarin ini saat kami bertandang ke New York dan New Jersey dalam perjalanan ke Kanada untuk Canadian Music Week (CMW) 2016. Mereka tertarik dengan ide split mini CD dengan kami, dan akhirnya dirilislah “Kindred Spirits” oleh Misashi Records.
 

Kalian baru saja merilis mini album terbaru, Another Life selain warna musik yang segar di mini album tersebut, keunikan apa yang ada di mini album tersebut ?
Dengan adanya suara terompet dan flugelhorn dari Ade F. Paloh dan BeniBono di lagu “Another Life”, ini pertama kalinya kami menampilkan tamu musisi di rilisan kami. Dan ini tidak akan menjadi yang terakhir. EP ini juga merupakan rilisan yang terakhir dengan bassist lama kami Rizky karena direkam sebelum dia memutuskan untuk menghilang.
 

Dalam mini album tersebut, kalian merilis sebuah single “Another Life” yang juga turut dibantu oleh seorang desainer bernama Charda Adyatama, apa alasan kalian memilih Charda untuk mendirect video klip lagu tersebut?
Sebenarnya Charda adalah seorang videographer juga dengan reputasi yang gemilang –karyanya “Flesh” memenangi Best Video untuk OK Video di 5 th Jakarta International Video Festival. Kami diperkenalkan oleh pionir Nanaba Records Jodi Setiawan melalui e-mail karena dia berbasis di London untuk sekarang ini. Kami berbicara dan bertukar pikiran, dan setelah dia memberikan ide untuk video klipnya, kami langsung setuju.

 

Siapa sosok kakek dalam video klip ‘Another Life’, dan menceritakan tentang apa sosok kakek tersebut ?
Seperti yang tertera di subtitle dalam video klip, kakek tersebut adalah seorang tuna wismayang bernama Mark, dan dia seseorang yang berkebangsaan Inggris yang pindah ke London dari

kampung halamannya untuk mengadu nasib demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Karena salah satu makna dari lagu “Another Life” adalah mencari kehidupan baru yang lebih baik, kami merasa cerita di balik kehidupannya sangat cocok untuk merepresentasikan lagu kami secara visual dan memberikan sebuah pesan yang relevan dengan banyak orang dengan nasib yang sama di seluruh dunia, termasuk di Indonesia sendiri, di mana banyak pendatang dari daerah pergi ke Jakarta dengan tujuan yang sama dan ujung-ujungnya ditimpa nasib yang kurang lebih sama.

 

Banyak musisi Indonesia yang mengerjakan video klip, dengan sudut pandang perjalanan mereka di luar negeri, lalu apa alasan kalian mengambil sudut pandang kehidupan luar negeri, sedangkan di Indonesia terbilang cukup untuk sebagai latar penggarapan video klip ?
Sebenarnya alasan nomor satu adalah karena Charda berbasis di London! (tertawa) Kalau dia tinggal di Jakarta, sepertinya arah video klip tersebut akan berbeda jauh dengan yang sekarang. Tetapi walaupun itu, message yang diinginkan oleh Charda dan Lightcraft untuk disampaikan kami rasa masih relevan.
 

Dan kalian juga menyatakan, bahwa di mini album ini adalah jembatan kalian menuju ke album ke-3, lalu seberapa penting bagi kalian atas kelahiran mini album “Another Life” ini ?
Penting sekali, karena sebenarnya kami terakhir merilis materi baru awal tahun 2014. Sudah dua tahun kami tidak menyuguhkan lagu-lagu baru. Dan juga EP ini menunjukkan sedikit warna musik kamu yang baru dan sedikit berbeda dari yang dulu. Jadi EP “Another Life” ini menjadi fondasi awal untuk album ke-3 kami yang semoga dapat kami rilis di tahun 2017.
 

Lalu apa yang kini tengah kalian persiapkan atau digarap, setelah dirilisnya mini album “Another Life” ?
Dari segi rilisan, kami sedang menulis materi sebanyak-banyaknya untuk album ke-3 kami. Banyak eksperimentasi suara dan alat musik lain, dan juga karena ditinggalnya kami oleh bassist lama kami, kami juga sedang dengan perlahan adaptasi dengan seseorang yang kalau lancar akan dapat menggantikan posisi bassist yang sedang kosong ini. Selain itu, kami juga sedang mempersiapkan diri untuk mini-tur Malaysia dengan kawan-kawan kami Peonies di bulan Januari 2017, dan juga untuk penampilan kami di South By Southwest (SXSW) 2017 di Austin, Texas di Amerika Serikat pada bulan Maret 2017. Mohon doanya!

COMMENTS

You must be logged in to comment.

RELATED NEWS

Website ini hanya diperuntukkan bagi Anda yang berusia 18 tahun ke atas.