Komunitas Taring Babi, Berawal Dari Anti Rakus dan Berkolektif Positif

Komunitas Taring Babi, Berawal Dari Anti Rakus dan Berkolektif Positif


Taring Babi, namanya mungkin terdengar menyeramkan, namun dibalik nama yang mengerikan itu, terdapat sebuah arti dengan makna filosofis yang mengagumkan.

 Nama Taring Babi sendiri terinspirasi dari satu filosofi tentang mahkluk bernama babi, yang dikenal rakus, dengan memakan apa saja yang ada dihadapannya meski itu bukan haknya. Hal ini lah yang kemudian nama Taring Babi mereka gunakan sebagai pengingat, agar mereka tidak menjadi mahkluk yang rakus. Menurut salah satu pentolan dari komunitas Taring Babi, yang juga merupakan pencabik bass dalam tubuh band Marjinal, Bob “Taring Babi ini berdiri sekitar awal tahun 1997. Saat itu bangsa ini tengah bergejolak dengan keinginan menumbangkan rezim Soeharto, yang telah lama menjadi diktator di Tanah Ibu Pertiwi ini”.

Berawal dari semangat perubahan dan demokrasi yang sama, hingga akhirnya mereka banyak bertemu dalam sebuah acara, atau kesempatan aksi dan demo, lalu bersepakat untuk membuat sebuah komunitas yang didalamnya mereka bisa dijadikan ruang bejar bersama, bekerja sama dalam membagi kreativitas baik dalam bermusik, seni gambar, dan lain-lainnya. Meskipun komunitas Taring Babi ini identik dengan sekumpulan anak-anak punk, namun menurut Bob, komunitas ini tidak hanya berbicara punk namun jauh lebih dari pada itu.

“Komunitas ini tidak hanya berbicara punk saja, namun menyangkut pada semua elemen masyarakat Indonesia yang ingin terlibat, jadi ini proses kita belajar sama-sama”, ucap Bob.

Sering kita dengar nama Taring Babi ini seperti memiliki ikatan yang sangat kuat dengan salah satu band punk tanah air, Marjinal. Bob pun membenarkan kalau Marjinal dan komunitas Taring Babi ini memang jalan beriringan. Karena komunitas ini banyak melakukan aktivitas yang berhubungan dengan seni seperti musik dan gambar. “Taring Babi itu adalah sebuah komunitas, dan di dalamnya ada kegiatan bermusik, dengan nama Marjinal. Disini kita coba menyuarakan apa yang selama ini ingin kita suarakan melalui media musik” terang pria yang tubuhnya penuh dengan rajah ini.

Tak hanya aktivitas bermusik, komunitas yang berbasis di Jakarta ini pun banyak melakukan aktivitas yang dinilai sangat positif untuk bisa mandiri menunjang kehidupan mereka. beragam aktivitas seperti, mendesain, menggambar, melukis, dan membuat merchandise menjadi aktivitas mereka.  Lebih lanjut Bob pun menilai bahwa secara pribadi komunitas ini banyak mengajarkannya untuk bisa menjadi diri sendiri.

“Gua sendiri belajar disini. Tuhan kasih manusia kekurangan dan kelebihan. Disini kita belajar untuk saling mengisi. Ibarat kendaraan kerjasama mesin, band, dan lampu, ya akhirnya bisa jalan sama-sama” tutup Bob.

Photo : Komunitas Taring Babi docs

 (Septian Nugraha)

COMMENTS

You must be logged in to comment.

RELATED NEWS

Website ini hanya diperuntukkan bagi Anda yang berusia 18 tahun ke atas.