3 Fenomena yang Dilakukan Oleh Para Musisi Lokal di Tahun 2016

3 Fenomena yang Dilakukan Oleh Para Musisi Lokal di Tahun 2016


Mengembangkan dan berinovasi lewat materi musiknya untuk dapat dinikmati dengan suguhan berbeda

Tidak ada hal yang baru-baru amat memang sepanjang tahun 2016 ini di skena industri musik independen. Beberapa band masih merilis karya-karya musiknya yang seru dan keren, meski beberapa juga ada yang masih terlalu “biasa”. Namun, sepanjang tahun ini ada beberapa hal keseruan yang cukup berbeda, dan itu tak hanya soal menyoal musik (style atau genre) tertentu saja. Folk memang sudah agak turun trennya, dan mencatat munculnya musik-musik indie-rock atau shoegaze yang mulai menarik perhatian. Tapi terlepas itu semua, perkembangan teknologi yang juga dimanfaatkan oleh beberapa band dalam mempromosikan bandnya cukup menjadi perhatian. Berikut adalah tiga fenomena pada tahun 2016  yang dilakukan oleh beberapa para musisi lokal dalam menyuguhkan materi musik mereka terhadap para pendengar musik tanah air.

Kembali Maraknya Album Kompilasi
Dari dulu hingga sekarang album kompilasi sempat mengalami naik turun. Perkembangan teknologi informasi sehingga memunculkan streaming/download yang dilakukan oleh para band pada satu sisi membuat kultur mengumpulkan single pada satu kompilasi sempat “hilang”. Jauh berbeda jika menengok satu atau dua dekade lalu.  Namun pada tahun 2016 nyatanya semakin membuat para musisi lokal yang merilis karyanya dalam bentuk album kompilasi. Album kompilasi yang cenderung dirilis lewat wadah sebuah komunitas, atau indie label ini, memiliki konsep tersendiri dalam meramu konsep pesan yang ingin ditujukan kepada publik yang lebih luas. Seperti kompilasi yang dirilis oleh Grimloc Records (Organize !), yang menceritakan sisi dari geliat dan lahirnya sebuah komunitas di Kota Bandung, atau kompilasi Pintu Rejeki Vol.1 yang mengusung konsep strategi kolaborasi dalam sistem perdagangan, hingga kompilasi album rilisan Pepaya Records yaitu Dentum Dansa Bawah Tanah yang ingin membangkitkan skena musik elektronik bawah tanah di Jakarta. Beberapa indie label hingga pegiat gigs lokal pun sudah mulai rajin mendokumentasikan kegiatan mereka dalam bentuk album kompilasi seperti kompilasi PopCore dan An Intimacy. Masih ada beberapa album kompilasi yang dirilis pada tahun 2016 yang dapat disimak, dan diharapkan di masa yang akan datang pun dapat lebih berkembang dengan mengusung konsep atau penyajiannya dengan lebih segar.

Media Promosi Melalui Video Vlog (V-log)
Marak dan berkembangnya teknologi, nyatanya semakin membuat aktivitas para musisi lokal menjadi lebih produktif dalam menyuguhkannya kepada para penikmat musik tanah air. Salah satunya dengan membuat video blogging (vlog). Vlog pada dasarnya digunakan untuk menyematkan video yang telah di unggah ke dalam sebuah blog. Hal ini nyatanya mengundang minat para musisi lokal beberapa waktu terakhir ini seperti Seringai, Endank Soekamti, The Sigit, dan musisi lainnya, yang kini selain bermusik juga menggarap video vlog, dan mengunggah momen keseruan mereka melalui kanal resmi youtube nya. Berbagai momen keseruan seperti ketika menjalani tur, keseharian para personil, hingga pada proses pembuatan materi album pun terekam dan terdokumentasikan dalam durasi video yang berkisar kurang dari 20 menit. Vlog para band itu pun dibuat serial tiap episode dan layaknya mini-dokumenter yang seringkali mengundang para penonton untuk menyaksikan terus menerus kegiatan para musisi lokal. Bahkan seringkali terhibur ketika melihat momen lucu dari para musisi tersebut.

Promosi Band melalui Video Klip Lirik
Tak lengkap rasanya jika dalam bermusik, tanpa membuat sebuah visual berupa kumpulan potongan-potongan visual yang disesuaikan berdasarkan ketukan pada irama lagu, nada, lirik, instrumennya dan penampilan band, yang disebut dengan video klip. Namun, video klip yang pada umumnya hanya mengilustrasikan musik semata, kini diracik lebih mudah dicerna dengan penambahan lirik berupa penggalan teks dalam penyampaiannya lewat visual streaming. Pada tahun 2016 ini, beberapa musisi yang mengeluarkan materi video klip terbarunya, kerap memasukan lirik dalam video tersebut seperti Rajasinga, Speedkill, Diocreatura, Bin Idris dan lain sebagainya. Video lirik yang bertujuan untuk dapat dipahami oleh penikmat musiknya, juga dapat menjadi alternatif untuk melakukan sing a long ketika menikmatinya. 

COMMENTS

You must be logged in to comment.

RELATED NEWS

Website ini hanya diperuntukkan bagi Anda yang berusia 18 tahun ke atas.